Berita Terbaru!

Rumah Dinas Bupati Toba Samosir (Tobasa) mendadak berubah fungsi. Bagaimana tidak, Sekretaris DPRD (sekwan)...

Mengintip Pertarungan Caleg Batak di Jakarta

Orang Batak selalu saja ada di setiap sektor kehidupan. Dari preman, tukang tambal ban, pejabat...

Amerika Tak Senang Bila Prabowo Presiden

Calon presiden dari partai Gerindra, Prabowo Subianto diberitakan oleh harian New York Times, Jumat(28/3/2014).

Caleg DPRD DKI Pandapotan Sinaga: Jokowi Sangat Dicintai Masyarakat

Calon Legislatif (Caleg) DPRD DKI Jakarta, dari PDI Perjuangan, Pandapotan Sinaga, mengaku optimis dirinya beserta rekan sesama caleg PDIP terpilih di Jakarta...

Luhut Pandjaitan Masuk Bursa Cawapres

Sejak resmi dideklarasikan sebagai capres dari PDIP, sejumlah nama mulai beredar untuk...

Jumat, 31 Mei 2013

Raja Gayus Rumahorbo, Dalang Terkenal di Balik Magisnya Sigale-gale

Pertunjukan tarian boneka Sigale-gale sudah sangat langka. Jumlah boneka Sigale-gale pun konon tinggal beberapa saja. Tidak gampang membuatnya. Ada kepercayaan di masyarakat Batak bahwa pembuat boneka Sigale-gale harus menyerahkan jiwanya pada boneka kayu buatannya itu agar si boneka bisa bergerak seperti hidup. Bagaimana pertunjukan mistis ini bisa sampai melekat dalam masyarakat Batak?

Untunglah sampai sekarang Sigale-gale belum punah sama sekali. Masih ada beberapa sisa patung yang dipahat puluhan tahun silam. Kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa kemunculannya meski sangat jarang. Jika mau menonton langsung pertunjukan tradisional dari Tanah Batak itu, pergilah ke Samosir. Kabarnya ada empat tempat yang dapat mempertontonkannya di sana. Dua di antaranya yang mudah dijangkau adalah tempat wisata Tomok dan Museum Hutabolon Simanindo.

Pengunjung dapat memesan langsung pertunjukan Sigale-gale dengan bayaran tertentu. Pengunjung yang ingin menontonnya pun tidak dibatasi dari jumlah dan usia. Terkadang dua tiga orang yang tertarik, seperti turis mancanegara, dapat meminta kepada pengusaha pertunjukan untuk segera memainkannya dengan iringan musikal gondang Batak dan delapan sampai sepuluh penari pengiringnya. Rombongan anak-anak sekolah pun sering berkunjung ke Samosir untuk menyaksikan Sigale-gale dalam durasi tertentu dari pilihan-pilihan repertoar musiknya. Repertoar di dua tempat tersebut dapat membosankan jika melebihi satu jam.

Apalagi sekarang musik pengiringnya sudah sering menggunakan rekaman kaset audio (playback). Suasana pertunjukan tarian boneka Sigale-gale memang sangat menarik dan menghibur. Bayangkan, sebuah boneka yang terbuat dari kayu dapat menari seperti manusia. Kelihatannya memang seperti manusia jika semakin diperhatikan. Boneka yang tingginya mencapai satu setengah meter tersebut diberi kostum tradisonal Batak.

Bahkan semua gerak-geriknya yang muncul selama pertunjukan menciptakan kesan-kesan dari contoh model manusia. Kepalanya bisa diputar ke samping kanan dan kiri, mata dan lidahnya dapat bergerak, kedua tangan bergerak seperti tangan-tangan manusia yang menari serta dapat menurunkan badannya lebih rendah seperti jongkok waktu menari. Padahal semua gerakan itu hanya di atas peti mati, tempat disimpannya boneka Sigale-gale seusai dipajang atau dimainkan. Kenapa itu bisa terjadi? Tentu dua tiga orang dalangnya ada di belakang dengan menarik jalur-jalur tali secara anatomis. Dalang Legendaris dulu, Sigale-gale sempat dimainkan hanya oleh satu orang dalang.

Dalang terakhir yang terkenal adalah Raja Gayus Rumahorbo dari kampung Garoga, Tomok. Ia pernah tampil pada festival Sigale-gale di Pematang Siantar (Simalungun) pada tahun 1930-an. Malahan, kabarnya Sigale-gale yang dimainkannya waktu itu adalah hasil buatannya sendiri. Raja Gayus dikenal mampu membuat Sigale-gale mengeluarkan airmata dan punya kemampuan mengusapkan ulos (kain tenunan Batak) yang disandangkan sebelumnya di bahu sang boneka kayu. Airmata yang keluar tentu saja air yang mengalir dari bagian kepala Sigale-gale yang dilubangi.

Namun bagaimana teknis mengeluarkannya masih sulit dibayangkan, karena biasanya diisi dengan kain lap basah atau wadah kecil yang muat di bagian yang berlubang itu. Pewaris Raja Gayus Rumahorbo mengatakan, Sigale-gale yang dimainkan pada festival itu kini berada di Belanda. Satu boneka lagi, masih menurut pewarisnya, terdapat di Jakarta. Memang Museum Nasional di bagian khusus kebudayaan Batak pernah diinformasikan menyimpan patung Sigale-gale. Rayani Sriwidodo Lubis menulis sebuah buku berjudul Sigale-gale (PT Dunia Pustaka Jaya, 1982) diperkirakan mendapat inspirasi setelah melihat patung yang ada di museum itu. Mistik di Balik Pembuatan Sigale-gale. Kisah pembuatan patung Sigale-gale masih lestari di kampung Garoga.

Kampung ini berjarak sekitar tiga kilometer dari Tomok, dan naik ke arah kiri yang dibentengi pegunungan Samosir. Gunung sekitar itu dikenal dengan nama Naboratan yang dapat berarti “sangat berat”. Ada satu air terjun, yang dalam bahasa setempat disebut dengan nama Sampuran Simangande. Air terjun yang konon menyimpan batu-batuan aneh dan posisi gunung seperti tembok yang sangat tinggi itu sempat menambahi kesan lebih jauh tentang kampung yang dikenal masih menyimpan patung Sigale-gale itu.

Ternyata suasana alam yang melatarbelakangi kampung Garoga sama sekali tidak ada kaitannya dengan munculnya patung Sigale-gale. Setidaknya dalam kaitan bahan-bahan seperti kayu dan upacara tertentu untuk patung Sigale-gale. Kampung Garoga juga tak bisa dipastikan sebagai setting cerita Sigale-gale. Kampung ini hanyalah salah satu kampung selain kampung Siallagan atau Ambarita. Malahan informasi tentang sebuah patung Sigale-gale pernah ada dari sekitar Silimbat-Porsea.

Hari itu, di teras sebuah rumah yang berarsitek modern, kami diperlihatkan pada dua unit Sigale-gale yang sudah berumur 30 dan 70 tahun. Salah seorang keturunan Raja Gayus menyambut kedatangan kami dengan minuman tradisional tuak dan natinombur (ikan panggang dengan racikan sambal khas Batak). Beberapa orang pemusik sudah siap-siap di posisi belakang terletaknya kedua Sigale-gale itu dengan instrumen selengkapnya. Sekitar setengah jam mereka memainkan sejumlah repertoar musik yang konteksnya tidak jauh dari kategori musik ritual Batak. Biasanya ada tujuh macam cara musikal yang dilakukan dalam ritual Batak. Namun selesai pertunjukan, kami lebih terfokus membicarakan seputar Sigale-gale sendiri.

Terkait dengan pembuatannya, patung Sigale-gale diliputi oleh cerita yang mistis atau seram. Bila seseorang sudah bersedia membuat patung Sigale-gale, berarti ia sudah pasti menjadi tumbal. Setelah menyelesaikan sebuah patung, si pembuat akan segera meninggal. Mungkin kepercayaan ini pulalah yang membuat patung Sigale-gale menjadi ekslusif dan tidak pernah dibuat banyak-banyak. Berdasarkan kejadian-kejadian itu, proses pembuatan Sigale-gale kemudian dilakukan oleh lebih dari satu orang. Ada yang khusus mengerjakan pembuatan tangan, tungkai kaki, bagian badan, dan kepala. Mungkin secara bersama juga tali-tali dan kerandanya yang berukiran Batak diselesaikan. Jumlah tali-tali pada setiap patung yang dibuat tidak selalu serupa. Pada dua unit Sigale-gale tadi, salah satunya mempunyai tali penarik 17 ruas.

Dulu tali-tali tersebut katanya sama sekali tidak ada. Gerakan patung berlangsung hanya dengan kekuatan gaib yang dimiliki dalangnya. Patung yang dihidupkan demi kekuatan gaib dalam tradisi Batak disebut dengan gana-ganaan dan dia dapat menyerupai totem. Seorang pembuat patung Sigale-gale dulunya dikenal dengan sebutan Datu Panggana, karena didorong oleh suatu kekuatan gaib juga. Bahan yang digunakan untuk patung Sigale-gale biasanya dari sejenis pohon bernama ingul dan pohon nangka. Pohon nangka khusus digunakan untuk bagian tangan dan kepala. Sedangkan pohon ingul untuk bagian badan dan kaki. Kayu ini termasuk jenis kayu yang bermutu dan sering digunakan membuat perahu. Tidak ada makna simbolis dengan pilihan atas kedua kayu itu.

Pengerjaan satu patung Sigale-gale dapat memakan waktu satu tahun. Asal Mula Sigale-gale Selesai pengerjaan patung Sigale-gale, para pembuat atau pemesannya tidak boleh menempatkan serta menyimpannya di dalam rumah. Ada tempat khusus untuk menyimpan patung Sigale-gale zaman dahulu. Namanya disebut sopo balian, sebuah rumah-rumahan di tengah sawah. Tersebutlah seorang raja yang kaya bernama Tuan Rahat. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Si Manggale. Anaknya tersebut diharapkan segera mendapat jodoh. Namun setiap perempuan yang disukainya selalu tak mau mendampinginya. Suatu ketika, sang raja turut mengirim anaknya berperang dalam rangka meluaskan wilayah kerajaan. Anak itu ternyata mangkat pula di medan perang.

Untuk mengenang anaknya, sang raja memesan sebuah patung dibuatkan mirip sang anak, dan sehidup mungkin. Patung tersebut kemudian dinamainya Sigale-gale. Namun sang raja memesankan agar patung tersebut ditempatkan saja agak jauh dari rumah, yakni di sopo balian. Nanti, pada saat upacara kematiannya, patung itu dapat dijemput untuk menari di samping jenazahnya. Jadi pertunjukan Sigale-gale dulunya diadakan hanya kepada seorang raja yang kehilangan keturunan. Tapi kemudian, kebiasaan raja itu diperluas kepada setiap orang yang tidak punya keturunan. Setiap orang yang sengaja memesankan patung Sigale-gale untuk alasan itu disebut dengan papurpur sapata (menaburkan janji).

Ketika kematian sudah tak terelakkan, Sigale-gale dengan tariannya menjadi semacam pengobat impian yang pernah kandas bagi orang-orang yang tidak mempunyai keturunan sampai pada upacara kematiannya. Tapi ada versi lain tentang cerita Sigale-gale. Konon, seorang dukun bernama Datu Partaoar, ingin sekali mempunyai anak laki-laki atau perempuan. Suatu ketika dia menemukan sebuah patung cantik di tengah hutan, persis seperti seorang gadis yang tubuhnya terlilit kain dan beranting-anting. Dia kemudian membawa gadis itu setelah mengubahnya dari patung menjadi manusia. Istrinya yang juga berharap-harap selama ini untuk mempunyai keturunan memberi nama gadis itu dengan nama Nai Manggale. Dia menjadi gadis yang disenangi penduduk karena kelembutannya.

Suatu ketika dia harus mendapatkan pendamping hidup. Namun seperti ibunya, ia tidak dapat melahirkan keturunan secara biologis. Dia pun berkata kepada suaminya yang bernama Datu Partiktik agar memesan pematung untuk membuatkan sebuah patung yang bisa menari di samping jenazahnya suatu ketika. Patung tersebut dinamai Sigale-gale. Berdasarkan versi itulah kiranya tarian Sigale-gale pernah ditemukan dengan pasangan laki-laki dan perempuan. Sigale-gale secara etimologis dapat berarti “yang lemah gemulai”. Demikianlah sebenarnya kesan melihat tarian boneka Sigale-gale. Entah mungkin juga mereka kembar. Yang laki-laki namanya si Manggale dan perempuan bernama Nai Manggale. INSIDE SUMATERA

Peta Kabupaten Simalungun Hataran Belum Rampung

Sebaiknya pimpinan dan alat kelengkapan DPRD Simalungun tidak perlu terburu-buru menemui Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho untuk minta rekomendasi persetujuan pembentukan Kabupaten Simalungun Hataran beserta sejumlah Surat Keputusan (SK) gubernur lainnya terkait aspirasi pemekaran ini. Pasalnya, dari Simalungun sendiri belum melengkapi syarat fisik kewilayahan, berupa data-data pendukung.

Kasi Subdit Penataan Daerah Wilayah II/b, Ditjen Otda Kemendagri Slamet Endarto, menjelaskan, memang persyaratan yang harus dikeluarkan Bupati Simalungun dan DPRD Simalungun, sudah lengkap semuanya.

Namun,  untuk persyaratan fisik kewilayahan, masih ada tiga item yang belum beres. Endarto menjelaskan, syarat berupa peta wilayah kabupaten yang akan dibentuk yang telah dilegalisir kabupaten/kota yang berbatasan dan juga peta Kabupaten Simalungun sebagai induk, sudah diserahkan ke Kemendagri.

Sayangnya, peta yang diserahkan itu belum sesuai dengan kaidah yang diatur di Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 2007 yang merupakan pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 129 tahun 2000 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah.

Dengan kata lain, peta yang dilampirkan sebagai data pendukung, belum layak untuk dicantumkan di UU pembentukan daerah otonom baru.

"Ada peta namun belum sesuai dengan kebutuhan Undang-undang," kata Endarto kepada JPNN di kantornya, kemarin.

Penelusuran koran ini, peta wilayah harus dilengkapi dengan daftar nama kecamatan dan desa/kelurahan yang menjadi cakupan calon kabupaten/kota serta garis batas wilayah calon kabupaten/kota, nama wilayah kabupaten/kota di provinsi lain dan provinsi yang sama, nama wilayah laut atau wilayah Negara tetangga yang berbatasan langsung dengan calon kabupaten/kota.

Peta wilayah harus dibuat berdasarkan kaidah pemetaan yang difasilitasi oleh lembaga teknis, yakni BAKOSURTANAL, Direktorat Topografi TNI-AD untuk wilayah daratan, Dinas Hdro Oseanografi TNI-AL untuk wilayah kepulauan.

Selain itu, peta wilayah kabupaten/kota harus dibuat sesuai dengan kaidah pemetaan dari peta dasar nasional dengan skala 1:100.000 s/d 1:250.000 untuk kabupaten, dan skala antara 1:25.000 s/d 1:50.000 untuk kota.

Itu item pertama. Item kedua syarat fisik kewilayahan adalah bukti kepemilikan yang sah berupa dokumen bangunan dan lahan untuk kantor bupati, kantor DPRD, dan kantor Perangkat Daerah untuk calon kabupaten baru itu.

Item ketiga, belum diserahkan syarat Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten induk, dalam hal ini RTRW Kabupaten Simalungun.

Dengan demikian, alangkah baiknya DPRD Simalungun melengkapi terlebih dahulu tiga item persyaratan tersebut, sebelum menemui Gatot Pujo Nugroho.

Seperti diberitakan, merasa rekomendasi pemekaran Kabupaten Simalungun dari gubernur dinilai terlalu lama, pimpinan DPRD Simalungun berencana akan menemui gubernur guna mempertanyakan sudah sejauh mana berkas usulan pemekaran diteliti dan diperiksa oleh gubernur.

Ketua DPRD Simalungun Binton Tindaon menyebutkan, rencananya para wakil rakyat Simalungun ini menemui Gatot pada Senin pekan depan. (sam/jpnn)

Globalisasi Tantangan Terbesar Warga Batak

BOCAH PARSOBURAN
Arus globalisasi yang terjadi dewasa ini harus dapat disikapi secara kritis oleh seluruh suku di Tanah Air guna melestarikan nilai, budaya, dan adat istiadat leluhur. Tak terkecuali bagi masyarakat Batak. Prof Dr Hotman Siahaan mengatakan, arus globalisasi yang melahirkan deteritorialisasi suatu saat akan melahirkan kondisi sosial masyarakat yang tak lagi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Apa yang harus dilakukan menyongsong abad mendatang? Ketika orang-orang Batak sudah berdiaspora ke seluruh penjuru dunia ini, hidup di alam globalisasi, bagaimana seharusnya sikap budaya orang Batak memasuki abad mendatang itu? Sungguh dibutuhkan suatu pandangan kritis,” kata Prof Dr Hotman Siahaan.

Hal itu dia katakan dalam sarasehan bertema “Resep Manusia Batak Abad XXII yang digelar Forum Komunikasi Pemberdayaan Siahaan (FKPS) di Jakarta, Kamis (30/5).

Hotman Siahaan mengatakan orang Batak harus memaknai ulang konsep budayanya apabila ingin bersikap cerdas dalam menghadapi arus globalisasi. Sebab globalisasi jangan hanya ditafsirkan sebagai internasionalisasi, liberalisasi, universalisasi atau westernisasi.

Tetapi juga harus diterangkan dari segi deteritorialisasi yang terjadi di segala bidang, baik ekonomi, politik, maupun sosial.

“Meski, di sisi lain, masyarakat Batak telah dikenal sebagai suku yang kuat mempertahankan akar budayanya meski telah beradaptasi dengan berbagai jenis jaman dan kebudayaan, baik di tingkat lokal, regional, nasional, bahkan global,” katanya.

Hal senada dikatakan pemerhati komunikasi digital yang juga tokoh Batak, Alex J Sinaga. Menurutnya, deteritorialisasi yang terjadi dalam arus globalisasi merupakan sesuatu hal yang sangat menarik untuk terus didiskusikan. Jika saat ini ditanyakan negara mana yang menjadi negara terbesar di dunia, maka jawabannya adalah negara China, Facebook, Twitter, Indonesia, dan Amerika. 

“Information Computer Technology membuat dunia ini jadi borderless, mungkin ini suatu tantangan buat budayawan Batak,” katanya.

Sarasehan Resep Manusia Batak Abad XXII juga menghadirkan sejumlah tokoh Batak lainnya, diantaranya Jenderal TNI (purn) Luhut Panjaitan, Putra Nababan, Sabar Situmorang, dan Rosianna Silalahi dengan pembicara tamu Arswendo Atmowiloto.

Acara ini juga diselingi dengan peluncuran buku Batak Inspigraph dan pemberian beasiswa kepada pelajar dan mahasiswa.

Kamis, 30 Mei 2013

Gelimang Miliaran Rupiah di Pesta Pernikahan Judika-Duma

Judika-Duma
Judika Sihotang dan Duma Riris Silalahi segera naik ke pelaminan. Keduanya akan melangsungkan pernikahan secara adat Batak di Medan, pada 31 Agustus 2013, bertepatan dengan hari ulang tahun Judika. Tak hanya di Medan, acara resepsi pernikahan Judika-Duma juga akan kembali digelar di Jakarta. Tuntas sudah perjuangan dua sejoli ini mengarungi lima tahun masa pacaran.

Judika dan Duma sudah matang mempersiapkan acara pernikahannya. Pernikahan pasangan yang sempat jatuh bangun itu pun dipastikan berlangsung sangat meriah. Konon, rangkaian acara yang melibatkan dua keluarga besar itu disebut-sebut menghabiskan dana lebih dari Rp 2 miliar. Benarkah? “Ah, enggak sampai segitu. Ya mungkin karena dua kali pesta, kami siapin semuanya,” tepis Judika di Jakarta, Rabu (24/4/2013).

Sebagian persiapan diserahkan Judika kepada orangtuanya. Sebab, dia mengaku tak terlalu paham mengenai tata pernikahan tradisional Batak. "Teknisnya ribet, banyak proses. Aku serahin ke papa mama, aku ikut aja. Dulu itu acara tujuh hari tujuh malam, tapi kalau ngebayangin sekarang sih enggak mungkin kayaknya," tutur vokalis Mahadewa itu.

Judika yang bernama lengkap Judika Nalon Abadi Sihotang, lahir di Sidikalang, 31 Agustus 1978. Ia terkenal sejak meraih runner-up Indonesian Idol 2 pada 2005. Sejak saat itu, Judika menjadi salah satu penyanyi papan atas.

Sedangkan Duma Riris Silalahi yang lahir di Balige, 20 September 1983, awalnya bekerja sebagai pegawai bank swasta di kota kelahirannya. Ia lalu menjajal peruntungan dengan mengikuti Pemilihan Wajah Femina (WF) tahun 2006. Paras cantik yang unik, tubuh semampai, serta kepribadian yang bersinar mengantarkan dirinya merebut gelar Pemenang I.

Bintang keberuntungan Duma bertambah terang dari waktu ke waktu. Ia kemudian mengikuti Pemilihan Puteri Indonesia tahun 2007, dan meraih gelar Runner-up 1 sekaligus Puteri Lingkungan Hidup. Hingga kini sudah puluhan iklan dan acara televisi yang dibintangi Duma. Termasuk pernah menjadi presenter SCTV. BS/GABE

OPINI: GAROGA TANAH SORGA

KOPI. Salah satu andalan Garoga
Jalan yang menyampaikan semua orang ke Garoga cuma dapat dilalui lewat Pangaribuan saja setelah melewati Sipahutar melalui Tarutung atau Siborong-borong. Benar bisa juga melalui Sihulambu di Tapanuli Selatan atau Habinsaran di Toba Samosir tapi harus berjalan kaki. Belum ada jalan raya yang bisa dilalui kendaraan bermesin

Garoga merupakan nama sebuah kecamatan di Tapanuli Utara. Letaknya di sebelah timur berbatasan dengan Tapanuli Selatan dekat ke Sihulambu di Kecamatan Saipar Dolok Hole.

Juga berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir dekat ke Kecamatan Habinsaran dan berbatasan pula dengan Labuhan Batu Utara yang kalau ditarik garis lurus dekat ke Aek Kanopan, sementara di wilayah Tapanuli Utara, Garoga berbatasan dengan Kecamatan Pangaribuan dan Kecamatan Sipahutar.

Garoga merupakan kecamatan terluas di Tapanuli Utara (567,58 km2) atau 14,96 persen dari luas seluruh daerah itu (3.793,71 km2). Bandingkan dengan Kecamatan Muara yang cuma 79,75 km2. Tarutung saja yang dijadikan pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara cuma seluas 107,68 km2. Diantara 15 kecamatan yang ada di daerah ini, ibukota kecamatan Garogalah yang jarak tempuhnya paling jauh dari Tarutung (8 km).

Perkara penduduk Garoga bukan yang terbesar. Kecamatan Siborong-borong menduduki ranking pertama, disusul Tarutung, Pangaribuan, Sipahutar dan Sipoholon.

Di kecamatan Garoga cuma ada 16.448 jiwa penduduk dengan tingkat kepadatan 28,98 jiwa per km2. Karena itu jangan heran kalau politik selalu mengalihkan perhatian pada kecamatan ini. Seperti biasa, politisi selalu cuma melirik pada kecamatan.

Kecamatan yang padat penduduknya saja, apalagi jelang Pemilukada, mereka cuma rajin mengunjungi kecamatan padat penduduk dimana suara bisa didukung.

Jalan yang menyampaikan semua orang ke Garoga cuma dapat dilalui lewat Pangaribuan saja setelah melewati Sipahutar melalui Tarutung atau Siborong-borong. Benar bisa juga melalui Sihulambu di Tapanuli Selatan atau Habinsaran di Toba Samosir tapi harus berjalan kaki. Artinya, belum ada jalan raya yang bisa dilalui kendaraan bermesin.

Orang-orang dari kedua daerah itu jika ingin ke Garoga, sampai sekarang banyak yang menggunakan kuda beban. Turun naik meliuk-liuk pada bukit dan lembah. Kuda saja bisa lemah lunglai setibanya di Garoga, konon pula manusia.

Dulu, pada zaman revolusi, banyak orang Batak dari Rantauprapat (Labuhan Batu) yang mengungsi ke daerah asalnya Tapanuli melalui Garoga. Mereka membelah belantara berminggu bahkan berbulan untuk sampai ke Lintong Nihuta atau Doloksanggul dan sekitarnya. Boleh jadi, tidak semua yang berangkat dari Labuhan Batu yang akhirnya tiba di daerah asalnya Tapanuli.
Ada yang mati dimangsa binatang buas di tengah hutan, ada yang mati setelah digigit nyamuk hutan yang ganas membawa malaria. Saya tak bisa membayangkan bagaimana perkasanya orang Batak pada masa lalu.

Tanah Ramah

Di Kecamatan Garoga, cuma ada 12 desa. Penduduknya, nyaris semua yang hidup dari sektor pertanian dalam arti luas. Di sini ada tanaman padi sawah, padi di lahan kering, ubi-ubian, jagung, kacang tanah dan tanaman holtikultura lainnya.

Karet (havea) merupakan komoditas primadona di sini. Belakangan anak negeri pun membudidayakan juga kakao serta kelapa sawit.

Sampai era 1980-an tanaman kacang bogor melimpah ruah. Produknya dijual ke pasar Siantar, dan anak negeri Garoga mendapatkan uang yang cukup banyak. Tapi itu sekarang cuma tinggal cerita saja. Anak negeri sekarang enggan membudidayakan kacang bogor (lagi) karena diserang hama secara sporadis.

Alhasil, kacang bogor asal Garoga tak laku lagi dijual di pasaran. Dan seperti biasa, Pemkab Tapanuli Utara tak berbuat apa-apa.

Selain karet di Garoga, pinang tumbuh dengan baik, juga aren, kakao, kelapa sawit, kemiri, kulit manis, kelapa, cengkeh kopi, kemenyan, pisang, nenas, salah, durian, alpukat, cabe, ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah.

Hasilnya melimpah ruah. Kalau musim durian tiba, harganya pun anjlok karena banyaknya. Kalau sayuran, memang kurang bagus tumbuh di sini. Makanya, orang Garoga tak usah memikirkannya untuk membudidayakan sayuran di sini.

Tanah Garoga, sesungguhnya luar biasa suburnya. Luar biasanya. Tanah di sini akan ramah sekali bila dijamah dan diolah. Dan, pasti memberi hasil yang melimpah. Karena itu tak terlalu salah bila disebut Garoga adalah tanah sorga. Barangkali apa yang disebut Koes Plus “tongkat kayu dan batu jadi tanaman; tepat sekali dialamatkan ke Garoga.

Di hamparan-hamparan perladangan penduduk ragam tanaman terlihat tumbuh subur semerbak. Ubi kayu, boleh jadi batangnya sebesar tangan balita. Buah jagung, tongkolnya jauh lebih besar dari yang ada di Tobasa, Simalungun dan Dairi, bahkan tanah Karo.

Dengan harga jagung sekarang yang relatif tinggi, anak negeri Garoga bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda bila mengusahakan tanaman jagung di lahannya.

Menurut data yang saya dapat di Tapanuli Utara, Garoga-lah luas panen jagung yang paling tinggi, (1.198 hektar) dengan rata-rata produksi 34,50 kw/hektar) dan tercatat sebagai rata-rata produksi tertinggi. Di Siborong-borong tanaman jagung memang terbilang luas (1.062 ha) tapi dengan rata-rata produksi cuma 34,05 kw/hektar saja.

Tanaman karet, juga sangat baik tumbuh di Garoga. Ada 1.533,00 hektar tanaman karet dengan rata-rata produksi 505,96 kg/hektar. Kalau satu keluarga memiliki 1 hektar saja tanaman karet dengan hanya karet yang sekarang Rp. 18.000/kg, sudah bisa anak negeri hidup sejahtera.

Meskipun masalah pengangkutan ke ibukota kecamatan sampai sekarang masih persoalan.

Sekiranya saya menjadi Bupati Tapanuli Utara, saya akan arahkan peningkatan jalan di 12 desa yang ada di Garoga. Jalan ini akan memperlancar arus angkutan hasil bumi ke sentra pasar di ibukota kecamatan.

Sayangnya saya cuma wartawan yang cuma bisa memaparkan apa adanya saja. Itupun kalau didengar dan kalaupun tak didengar tak apa-apa.

Namun, apapun cerita, saya akan terus menulis dan menulis terus sampai denyut terakhit jantung saya. Sampai akhir menutup mata. ***

Ramlo R Hutabarat
Penulis adalah praktisi pers, tinggal di Tepian Bah Bolon pada Nagori Siantar Estate di Pinggiran Simalungun, yang berbatasan dengan Kota Pematangsiantar. Artikel ini dikutip dari www.pusukbuhit.com

Rabu, 29 Mei 2013

Ampuan Situmeang: Majalah HORAS Kian Berkibar

Majalah HORAS terbit dwimingguan dengan sajian berita menarik dan khas. Media massa bernuansa Batak ini menjadi istimewa karena mampu menghadapi penyakit umum media massa; mati suri atau benar-benar mati lalu dikuburkan. Apa rahasia HORAS?

Media massa dan orang Batak memang sudah menjadi pasangan yang klop. Di setiap daerah yang dihuni banyak orang Batak, di sana pasti ada media massa bernuansa Batak. Di Jakarta paling banyak dijumpai koran, tabloid, dan majalah yang menggarap berita-berita khas daerah Batak. Seperti berita tentang bona taon, peresmian gereja, termasuk peresmian tugu parmargaon. Sementara di daerah lain seperti Riau, Jambi, Kalimantan, dan Batam juga tidak ketinggalan.

Namun, setiap kali diluncurkan yang biasanya diiringi serangkaian seremoni, banyak pula media massa itu yang akhirnya redup. Gejalanya, tidak terbit sesuai jadwal, isi berita kurang menarik dan terkesan asal jadi. Tak lama kemudian, media massa itu akhirnya resmi almarhum. Begitulah kira-kira gambaran media massa yang mengambil pasar pembaca masyarakat Batak. Hampir menyerupai mitos.

Mitos itulah yang akhirnya bisa dimentahkan HORAS. Di bawah komando Ampuan Situmeang, HORAS terbukti bisa bertahan dan terus berkibar. Sudah sepuluh tahun HORAS berdiri dan mampu melewati hempasan demi hempasan masa. Ya, Ampuan Situmeang memang sosok yang bertangan dingin, piawai menjalin relasi, dan tak berhenti berekspansi.

Ampuan Situmeang adalah jebolan Fakultas Sastra, USU, yang meniti karir di Majalah Bona Ni Pinasa. Pria bertubuh tinggi besar ini dikenal ramah dan santun. Kampungnya berasal dari Tarutung, Tapanuli Utara. Ia mengelola HORAS dari Jakarta, dan diedarkan ke sejumlah daerah seperti Riau, Jambi, Kalimantan, Tapanuli dan sekitarnya, termasuk di lapo-lapo di sudut Jakarta. Semoga HORAS tetap bersinar dan menjadi media komunikasi dan informasi bagi bangso Batak. HORAS. Ishak Pardosi

BUKU: Delapan Agenda Transformasi HKBP

Bagi kawan-kawan yang ingin membaca secara utuh Agenda Transformasi HKBP dapat mengunduh atau mengunduh file di bawah ini. File ini juga bebas dikopi, disebar-luaskan, ditambah-kurangkan, dijadikan milik pribadi. Mari satukan hati, kata dan tindakan demi HKBP yang jauh lebih baik. 

Mari menggulirkan pembaharuan HKBP ini dari diri dan jemaat kita masing-masing. Perjuangan kita bukanlah sekadar menjadi Pimpinan HKBP melainkan agar HKBP sungguh-sungguh menjadi berkat bagi Tanah Batak, Indonesia dan seluruh dunia. Bahasa Bataknya: asa tutusitutu gabe pasupasu HKBP di Tano Batak, Indonesia dohot sandok portibi on.

Berubah atau binasa. Muba manang mago!

File dapat diambil di link ini: 8 (Delapan) Tawaran Agenda Reformasi HKBP: http://www.mediafire.com/?apbmlatr1ke4ppm

Pdt Daniel T.A, Harahap

OPINI: Amplop di Kuburan

PENGANTAR REDAKSI: Bagaimana pendapat Anda tentang kebiasaan jemaat yang kerap memberikan sejumlah uang kepada pendeta, di saat wakil Tuhan tersebut merampungkan salah satu tugasnya? Lalu, masih adakah pendeta yang dengan sukarela menolak pemberian jemaatnya itu?

SEBAGAI seorang pendeta HKBP, jujur, saya sangat sering menerima amplop berisi uang (silakan tanya apakah pendeta HKBP lain tidak mempunyai pengalaman yang sama). Amplop itu kadang dititip lewat gereja (dan karena itu diwartakan, sehingga semua orang, termasuk istri saya tahu) dan kadang atau sering disalamkan diam-diam ke tangan saya sepulang suatu acara yang saya layani, karena itu orang banyak (apalagi istri saya) tidak tahu.

Sebenarnya apalagi di jaman akuntabilitas, transparansi dan sistemik ini saya agak risih menerima amplop itu walaupun dalam hati acap saya senang-senang saja menerimanya. Bela diri: emangnya siapa sih yang tak suka menerima uang? Apalagi secara hukum gereja (HKBP) pendeta tidak dilarang menerima pemberian jemaat yang suka diberinama “hamauliateon” atau “terima kasih” ini. Apalagi amplop itu juga tak pernah bisa bikin saya kaya-raya dan juga tidak berpengaruh apa-apa terhadap pengambilan keputusan parhalado yang saya pimpin.

Namun walaupun saya bilang senang, bagi seorang pendeta seperti saya menerima amplop bukanlah tanpa beban. Jujur, kadang saya merasa kecil atau dikecilkan. Atau takut dicap hepengon, mata duitan, atau bisa dibeli. Sebab itu saya pernah mengusulkan kepada Parhalado agar gaji saya sebagai pendeta dinaikkan secara signifikan lantas gereja membuat peraturan melarang pendeta menerima amplop. Bagi saya itu jauh lebih baik. Saya dan keluarga tidak perlu merasa berhutang budi kepada siapa-siapa. Saya tidak perlu merasa sebagai orang yang dikasihani sebab itu senantiasa perlu dikasih amplop.

Namun parhalado menolak. Alasannya: jemaat senang dapat memberi kepada pendetanya. Toh tidak ada paksaaan. Alasan lain: itu sudah adat atau kebiasaan. Saya pun mengalah. Saya ingat pameo batak: hansit mulak mangido hansitan mulak mangalehon (permintaan yang ditolak menyakitkan, namun pemberian yang ditolak lebih menyakitkan). Ya sudahlah. Jika adat memberi “hamauliateon” itu menyenangkan semua pihak dan tidak menyalahi aturan, prinsip apalagi kebenaran firman Tuhan mengapa harus dihapus? Saya pun menghitung-hitung lagi besaran amplop. Toh kadang persembahan dan pemberian saya lebih besar daripada yang saya terima.

Lantas kenapa takut (menerima amplop)? Jika saya memang mau, toh saya bisa juga diam-diam meneruskannya (sebagian atau keseluruhan) kepada teman atau siapa saja yang membutuhkannya. Satu lagi: bukankah saya juga membutuhkannya? Lantas kenapa malu? Ya sudahlah diterima saja dengan ucapan syukur dan hormat dan ikhlas.

Namun, betapapun saya membutuhkannya, saya telah berjanji kepada diri saya sendiri: saya tidak akan pernah mau menerima amplop di pemakaman atau pekuburan. Apa pula maksudnya ini? Begini: orang batak anggota HKBP itu saking sukanya memberi amplop kepada pendetanya (atau karena si pendeta suka menerimanya?) dengan ikhlas juga akan memberikan semacam ucapan terima kasih dalam bentuk uang saat dilayani gereka dan pendeta dalam acara kedukaan. Tentu saja bukan keluarga inti yang kematian yang langsung memberikan amplop, namun sanak atau kerabatnya. (Tentang sumber dananya apakah dibebankan kepada keluarga yang berduka atau dari kantong yang bersangkutan saya tidak tahu).

Begitulah saban-saban habis melayani pemakaman dan hendak pamit, selalu saja ada salah seorang kerabat dekat keluarga yang berduka mendatangi saya dan menyalamkan amplop itu. Dan amplop selalu saya tolak dengan halus betapapun mereka mendesak dan memaksa saya menerimanya. Pada saat sukacitalah kasi kalian itu, kata saya. Saya tidak terlalu berpikir apakah mereka sakit hati. Saya punya sejumlah alasan menolak. Pertama: penolakan itu adalah tanda empati dan solidaritas saya (dan gereja yang saya pimpin) kepada keluarga yang berduka. Sebagai seorang pendeta saya merasa ikut berduka dan prihatin atas kedukaan itu. Dan keprihatinan itu ingin saya tunjukkan salah satu dengan tidak menjadikan diri saya sebagai beban tambahan. Sebab itu juga saya tidak pernah meminta dijemput atau diantar oleh keluarga yang berduka. Saya bisa mengurus diri saya sendiri. Jika perlu saya minta bantuan parhalado.

Kedua: saya ingin menyatakan kepada banyak orang bahwa pendeta dan terutama gereja HKBP bukan hanya pihak yang hanya tau menerima apalagi dalam peristiwa dukacita. Sebaliknya gereja adalah pihak yang lebih banyak memberi. Sudah cukuplah tudingan bahwa gereja HKBP hanya tahu meminta. Saya ingin membuktikan HKBP bisa memberi kepada jemaatnya. Sebab itulah dimana saya melayani, yang pertama-tama saya perjuangkan agar gereja mau memberikan santunan kepada anggota jemaatnya yang kemalangan. Hanya sekadar informasi: bila anggota jemaat kami meninggal, kecil atau besar, kami akan memberikan “tangis ni huria” (uang tangis gereja) sebesar dua juta. Di rapat depan kami sudah bertekad akan menaikkanya lagi. Itulah salah satu tanda gereja ikut merasakan beban yang sedang dipikul jemaatnya dan mau berbagi beban itu.

Ketiga: saya juga ingin mengatakan pelayanan gereja tidak boleh diukur uang. Ada saatnya gereja menerima namun ada saatnya gereja memberi. Menerima dan memberi (take and give), sisolisoli, tidak harus dilakukan pada saat yang sama. Jika pelayanan gereja harus dibayar, apa hebatnya? Jika semua kebaikan harus dibalas diganti seketika, apa lagi kelebihan gereja dengan perusahaan ambulans, peti jenazah atau pemakaman? Pada saat mana dan bagaimana gereja (termasuk pendeta) menyatakan dia ikut berduka dan mau berbagi dengan jemaat yang kematian kekasihnya? Hanya melalui kata-kata belaka?

Namun sebelum saya dituduh bohong, saya harus buru-buru mengakui ada beberapa kali saya dengan sukacita menerima amplop di kuburan. Yaitu dari keluarga orang-orang yang menurut adat Batak telah mati saurmatua (mati umur panjang, banyak turunan, dan kaya raya) sebab itu dipestakan. Entah kenapa pada saat itu saya sama sekali tak merasa bersalah.

Daniel T.A. Harahap, Pendeta HKBP
www.rumametmet.com

Selasa, 28 Mei 2013

DL, Martua, dan Labora: Mengintip Fenomena Trio Sitorus

TRIO SITORUS
Darius Lungguk Sitorus, Martua Sitorus, dan Labora Sitorus adalah Trio Sitorus yang sangat fenomenal. Dua nama pertama sudah lebih dulu akrab di tengah publik. Sedangkan nama terakhir, baru saja menggemparkan republik. Kesimpulannya, Sitorus adalah sebuah marga yang kian menakjubkan.

Darius Lungguk Sitorus yang biasa disingkat DL Sitorus atau cukup DL, adalah yang paling senior di antara ketiga nama di atas. Saat ini, DL sudah tergolong sepuh. Akan tetapi, cengkeraman bisnisnya terus menggeliat di bawah komando dua puteranya; Sihar Sitorus dan Sabar Sitorus.

Kiprah DL di bisnis perkebunan sawit sudah masuk kategori nasional bahkan internasional. Lahan sawitnya membentang luas di sepanjang Pulau Sumatera. Untuk bidang pendidikan dan kesehatan, ia juga tidak kalah. Dari sekolah hingga universitas, di samping mendirikan rumah sakit. Sama halnya di bidang bisnis penyewaan gedung, ia masih nomor wahid, khususnya di kalangan Batak di perantauan seperti Jakarta. Rumah Gorga milik DL Sitorus kini mudah ditemui di setiap sudut Ibu Kota. Maka, tidak perlu menghitung berapa kekayaan DL saat ini. Yang pasti, sudah segunung.

Selanjutnya adalah Martua Sitorus. Dia adalah pemilik PT Wilmar International Limited, sebuah perusahaan yang juga mengelola bisnis perkebunan sawit. Pria ini masih tergolong muda dan lebih banyak menghabiskan waktunya di Singapura dan Malaysia. Sama seperti DL Sitorus, Martua kerap ditorehkan sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Berapa harta kekayaan Martua? Ah, sudah pasti mencengangkan.

Terakhir, yang juga layak menjadi catatan adalah munculnya nama Labora Sitorus. Pria paruh baya ini pun lagi-lagi mengundang decak kagum terhadap marga Sitorus. Meski berprofesi sebagai seorang polisi, Labora merupakan pengusaha ulung di Papua. Berbeda dengan DL dan Martua, polisi berpangkat Aiptu ini lebih menyukai usaha perkayuan. Ia memasok kebutuhan kayu untuk beberapa daerah di Indonesia. Lantas, kira-kira berapa banyak uang Labora yang hilir mudik di rekeningnya? Wow, bombastis.

Tak Punya Hubungan Satu Sama Lain


Di sinilah menariknya Trio Sitorus. Apakah ketenaran ketiganya adalah sebuah kebetulan belaka? Atau memang karena murni hasil kerja keras? Tidak perlu juga mempersoalkan bagaimana cara mereka meraup triliunan rupiah. Toh, ketiganya bukanlah koruptor dan bukan pula pejabat negara. Kecuali Labora, DL dan Martua adalah sosok pebisnis tulen.

Uniknya lagi, Trio Sitorus yang telah berhasil mencuri perhatian masyarakat Indonesia, bisa disebut tidak punya hubungan satu sama lain. Mereka hanyalah tiga orang yang sama-sama bermarga Sitorus. Tidak ada lagi hubungan yang bersinggungan dalam silsilah keluarga dekat.

Kampung halaman ketiganya juga cukup berjauhan. DL Sitorus lahir di Parsambilan, Silaen, Tobasa. Sementara Martua Sitorus lahir di Pematangsiantar, dan Labora Sitorus lahir di Serdang Bedagai. Ketiga daerah ini jelas memiliki karakter yang berbeda-beda. Dengan demikian, Trio Sitorus ini meniti karir dengan cara dan gayanya sendiri-sendiri. Tidak saling membantu atau mungkin saja tidak saling mengenal.

Pertanyaan yang layak diajukan kemudian adalah; kenapa Sitorus bisa sampai pada titik yang sudah selangit itu? Apakah Sitorus memang sudah ditakdirkan mewakili marga-marga Batak sebagai pemilik rupiah paling banyak? Tak mudah menjawab ini. Sebab secara teori, semua manusia berhak dan mempunyai kesempatan mengubah kehidupannya. Lagipula, bukan hanya marga Sitorus yang telah berhasil mencicipi nikmatnya segunung rupiah. Marga-marga lain juga banyak. Bahkan mungkin melebihi kiprah Sitorus, yang pada waktunya pasti akan terungkap. IP

Labora Sitorus, Sosok Fenomenal dari Serdang Bedagai

Aiptu Labora Sitorus
Indonesia mendadak heboh karena Aiptu Labora Sitorus. Bintara di Polda Papua itu memiliki transaksi di rekeningnya sebanyak Rp1,5 triliun. Labora lahir dan menamatkan SMA di Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara. Pada 1981, ia hijrah ke Sorong, Papua. Ia dibawa oleh Tulang-nya bermarga Pasaribu. Tepatnya tahun 1983, Labora Sitorus mengikuti seleksi masuk polisi di Papua. 30 tahun kemudian, ia mendadak menghebohkan Nusantara.

Labora Sitorus. Itulah nama pria yang berprofesi sebagai polisi berpangkat Aiptu ini. Ia menjadi sangat istimewa karena memiliki kekayaan yang luar biasa. Sebagai seorang polisi, publik langsung menaruh curiga kepada dirinya. Bagaimana dia mengumpulkan pundi-pundi uang hingga triliunan rupiah? Apakah bisnis yang dia jalankan legal? Terlepas dari semua dugaan itu, Labora Sitorus memang sosok yang layak diapresiasi. Paling tidak, Labora bukanlah seorang koruptor yang menggerogoti keuangan negara. Kalaupun dia bermain curang dalam bisnisnya, kenapa baru sekarang diungkap ke permukaan?

Labora Sitorus sering disapa dengan panggilan Ucok (51). Ia adalah anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Sitorus dan Br Pasaribu. Dia tinggal di Dusun 12 Kampung Kebun Sayur Desa Sei Bamban Kecamatan Sei Bamban Kebupaten Sergai. Semasa kecil, dia dikenal sebagai anak yang pintar ketika bersekolah di SD Negeri 102037 Kebun Sayur, Sei Bamban, Sergai. SD tersebut berjarak hampir 500 meter dari rumahnya. Setiap pagi dia berjalan kaki. Dia tidak memakai sepatu, hanya memakai sandal jepit.

Maklum, kehidupannya saat itu tergolong tidak mampu. Ya, meski ayah Labora berkerja sebagai PNS di jajaran PDK Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang (sebelum terpisah menjadi Kabupaten Sergai).

Mak Deliana Br Butar-Butar (52) warga Kebun Sayur Kecamatan Sei Bamban Kabupaten Sergai yang termasuk teman dekat Labora ketika masih sekolah di SD Negeri 102037 Kebun Sayur menceritakan kalau Labora anak yang dikenal pendiam serta pandai. “Dalam penampilannya Labora juga dikenal sederhana,” bilang Mak Deliana, belum lama ini.

Menurut guru SMP yang bertugas di Sei Rampah ini, kehidupan Labora tak ubahnya anak kecil lainnya. Bermain lomba lari dan layang-layang ketika habis masa panen padi. “Labora sedikit pendiam, jarang sekali berbicara dan kalau ada yang penting baru dia mau bicara. Ya, banyak teman-teman Labora di kampung pada saat seumur 7 hingga 12 tahun,” ujar Mak Deliana.

Menurut Mak Deliana, di kawasan mereka tinggal dulu banyak etnis Tionghoa. “Labora saat sekolah banyak berteman dengan orang Cina. Di antara teman-teman yang lain, Labora paling lain, dia tak banyak bicara dan berpenampilan sederhana,” kata Mak Deliana.

Bukan maksud memuji, tambah Mak Deliana, Labora juga dikenal sebagai anak yang pintar. “Sering juara kelas, tetapi dia tetap rendah hati dan mau membagi ilmunya kepada teman-teman sekelas dan itu masih terjalin hingga sekarang sesudah menjadi anggota polisi,” jelas Mak Deliana.

Namun, usai tamat SD, Mak Deliana dan Labora berpisah. Mak Deliana ke Medan sedangkan Labora sekolah di SMP di Kota Sei Rampah. “Sebelumnya warga terkejut melihat kejadian kalau Aiptu Labora Sitorus ditangkap memiliki transaksi uang Rp1,5 triliun,” jelas Mak Deliana.

Hal senada juga dikatakan teman sekelas Labora, Br Situmorang yang disapa Mak Ando (52). “Saya sering melihat Labora membantu orangtuanya pergi ke ladang seusai pulang sekolah,” ujar Mak Nando. Menurut Mak Nando, hasil panen dari bertani orangtuanya digunakan untuk biaya sekolah. “Ya, namanya mereka banyak keluarga, untuk mencukupi kehidupan sebagai PNS kalau itu tidak tercukupi memenuhi kebutuhan sehari-hari.”

Memasuki masa SMA, Labora sudah jarang lagi bergaul. Terkadang pada hari Minggu ketika pulang dari gereja di Kampung Kebun Sayur Desa Sei Bamban, mereka bercengkerama seperti layaknya teman biasa. “Pacar Labora ketika itu, saya tidak mengetahuinya,” akunya.

Saat duduk dibangku SMA kira-kira kelas 2, Labora ditinggal oleh bapaknya yang meninggal dunia. Setelah kepergian bapaknya, Labora dibantu adik-adiknya kemudian bekerja lebih giat di ladang. “Labora juga membantu kakaknya berjualan lapo tuak di depan rumah orangtuanya,” kata Mak Nando.

Singkat cerita, ketika menamatkan bangku SMA pada 1981, Labora alias Ucok langsung dibawa oleh Tulang-nya menuju Sorong, Papua. Tepatnya tahun 1983, Labora Sitorus mengikuti seleksi masuk polisi di Papua. “Sejak itu, kami jarang mendengar kabar si Labora,” kata Mak Nando.

Selang setahun kemudian, ibu Labora meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Kebun Sayur Desa Sei Bamban. Semenjak kedua orangtuanya meninggal, keberadaan Labora makin tak jelas. Tetapi selang beberapa tahun ini, tepatnya tiga tahun belakangan ini, Labora baru sering pulang kampung pada tahun baru, setelah membangun rumah mewah miliknya.
Rumah Labora di Kampungnya. Foto: Sumut Pos
Rumah Labora berlantai dua bercat kuning berkeramik dan satu kawasan dengan kuburan ayah dan ibunya, beserta ompung-nya. “Resmi dibangun pada tahun 2011 lalu, Labora Sitorus bersama istri dan anak-anaknya pulang kampung pada saat perayaan Natal dan tahun baru lalu (tahun 2012),” jelas Marga Sitorus (58) di Lapo Tuak.

Diceritakan Marga Sitorus, Labora tak pernah tinggal di rumah mewah itu. Untuk merawat rumah ada satu keluarga yang setiap hari datang dan tinggal di situ seperti menyiram tanaman dan membersihkan rumah.

Setiap pulang kampung, pihak keluarga mereka selalu mengundang warga untuk makan bersama dan apabila ada warga kampung pesta, Labora yang dikenal dermawan selalu memberikan sumbangan cuma-cuma satu ekor ternak babi. “Keluarga mereka dikenal murah hati dan sering membantu warga saat pulang kampung.”

Selain di kampung halamannya, Labora juga memiliki perusahaan kayu di kampung Bozwesen, Distrik Sorong Timur, Sorong, Papua Barat. Ia juga punya sebuah gudang kayu di Jalan Mayjen Sungkono, Gresik, Jawa Timur. Juga sebuah taman hiburan air di Sorong, Papua. IP/SUMUT POS/METRO TV

Senin, 27 Mei 2013

Petani Kopi di Taput Merugi Karena Serangan Hama

Ribuan batang tanaman kopi Desa Panggabean dan Desa Tapian Nauli Sipoholon, Taput tidak  menghasilkan karena rusak diserang hama penyakit. Akibatnya, petani kopi di sana merugi. M Panggabean (41), salah seorang petani kopi, panen kali ini petani mengalami rugi besar. Hama penyakit menyerang hingga membuat kopi tidak berbuah.

“Kopi yang sudah sempat berbuah menjadi busuk diserang hama. Daun-daun pohon kopi mengering dan membusuk. Musim ini, saya sangat rugi,” ujarnya kepada METRO, Sabtu (25/5).

Ia mengaku, beberapa jenis obat-obatan sudah dicoba memberantas hama tersebut, namun tidak juga berhasil.

“Kita belum tahu hama jenis apa yang menyerang kopi itu. Kondisi ini sudah setahun. Hama penyakit itu pertama menyerang buah dan daun. Upaya memberantas virus sudah kita lakukan, tapi belum berhasil,” katanya.

“Sejak adanya hama penyakit itu, hasil panen menurun drastis. Dari 30-45 kilogram biasanya sekali panen, turun drastis menjadi 7-10 kilogram perpanen. Rata-rata, kopi di desa ini sudah terjangkit hama penyakit itu,” paparnya.

Hal senada diungkapkan petani lainnya, Tohom (31), warga Desa Pagar Batu Sipoholon. Ia mengutarakan, sejak hama penyakit menyerang kopi, nasib petani mulai terpuruk. Petani menjadi pesimis mendapatkan hasil panen bagus.

“Buah kopi yang diserang hama penyakit rata-rata yang mendekati musim panen. Saat di panen, di dalam buah kopi terdapat ulat berwarna keputih-putihan,” terangnya.

Terpisah, Kepala Badan Pelaksana Pengyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Taput Sabara Sitanggang, mengutarakan, hama penyakit itu datang disebabkan keengganan petani melakukan perawatan dan pemangkasan daun, sehingga pencahayaan atau sinar matahari tidak bebas menerobos batang kopi, lantaran rimbunnya daun.

“Serangan hama itu disebabkan rimbunnya daun karena tidak ada pemangkasan kopi, tingkat kelembapan tanaman justru mendorong pertumbuhan jamur serta beragam penyakit,” ucapnya.

“Kalau buah yang menghitam dan mengeras disebabkan jamur dan virus. Selain petani tidak melakukan pemangkasan daun, sanitasi ke wilayah kebun juga relatif kurang. Kedua faktor ini memicu perkembangan virus yang menginfeksi pohon kakao,” paparnya.

Untuk itu petani diimbau untuk melakukan pemangkasan tunas mapun daun agar sinar matahari masuk, sehingga mengurangi kelembaban. Suhu yang lembab, merupakan suhu yang ideal bagi perkembangan hama.
HP/METRO SIANTAR

Pesta Huria & HUT Ke-43 GKPS Rami: Sebarkanlah Berita Baik

Perayaan Pesta Kuria dan HUT GKPS Rami ke-43 yang diikuti ratusan jemaatnya di depan GKPS Rami, Jalan Rakuta Sembiring, Kelurahan Martoba, Minggu (26/5) berjalan hikmat. Untuk memeriahkan Pesta Huria dan HUT GKPS Rami ke-43, berbagai rangkaian kegiatan dilaksanakan, dimulai Sabtu (25/5) dengan perlombaan tarik tambang, perlombaan joget gereja, perlombaan vocal group, perlombaan marbulang, perlombaan lari dalam goni dan perlombaan catur.

Panitia Pesta Huria dan HUT GKPS Rami Ke-43, Jon Lenon mengatakan bahwa acara puncak, Minggu (26/5) diawali Kebaktian Minggu. Selanjutnya, laporan panitia, kata sambutan, pemberian bingkisan, pemotongan kue ulang tahun dan terakhir makan bersama.

Tema Pesta Huria dan HUT GKPS Rami Ke-43 ‘Hita do saksi ni Kristus’ (Kita lah saksi Kristus). Sub tema ‘Ambilankon hita ma ambilan na madear bani sagala na tinompa ase jumpahan haluahan’ (Beritakanlah kabar keselamatan bagi seluruh mahluk sehingga akan temukan keselamatan).

PW Kastria Saragih dalam kotbahnya mengatakan, masih banyak hal yang harus Ku lakukan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila ia datang, yaitu roh kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.

“Banyak rahasia yang akan disampaikan kepada kita. Semua masa depan akan diberitahu namun kita harus memberitakan kabar keselamatan ke seluruh ciptaanNya. Dengan Pesta Huria dan HUT GKPS Rami Ke-43 diharapkan kita dapat bertumbuh dan berkembang dalam iman,” ujarnya.

Lanjut Kastaria Saragih, 43 taon matoras ma tongon, jumpah ma tongon buah namadear in, horas ma, horas ma. GKPS Rami horas ma. (43 tahun sudah bertumbuh, ketemulah buah yang baik, horas, horas. GKPS Rami horas). “Melalui SDM berkulaitas dan iman yang bertumbuh lah kita memberikan yang terbaik untuk Tuhan,” ujar Kastaria Saragih menutup kotbahnya.

Ketua Panitia, Sardiaman Purba mengungkapkan bahwa dengan Pesta Huria dan HUT GKPS Rami Ke-43 diharapkan akan tercipta kebersamaan dan perkembangan iman seluruh jemaat dalam mengabarkan kabar keselamatan. “Dos ni uhur do sibaen na saut. (Seia sekata akan membuat keputusan yang baik). Kedapannya acara pembangunan dan ulang tahun dapat berjalan lebih besar,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu juga hadir, Pengantar Jemaat GKPS Rami St Bartolomeus Sumbayak, Wakil St Jalen Sipayung, Sekretaris St Jon Edison Saragih, Bendahara St Juni Harlen Sumbayak. Sedangkan Panitia Pesta Huria dan HUT GKPS Rami Ke-43, Ketua Sardiaman Purba, wakil Maha Darma Sumbayak, Sekretaris Rinsen Purba, wakil sekretaris Jon Lenon Sipayung dan Bendahara Robinho Sihaloho.

Pdt Albert Purba dalam sambutannya mengatakan, dengan Pesta Huria dan HUT GKPS Rami Ke-43 kita dapat berkembang baik dari iman dan pelayanan. “Sesuai dengan tema kita sebagai saksi Kristus harus mengabarkan kabar keselamatan,” ujarnya. IP/METRO SIANTAR

Agar Sinyal Ponsel Anda Tidak Mullop-ullop

Yang Anda lakukan mungkin mengangkat telepon seluler (ponsel) tinggi-tinggi dengan harapan bisa menangkap sinyal lagi, atau berjalan keluar bila di dalam rumah. Bila tidak dapat sinyal juga, ucapan pasrah sambil berkata "ya sudahlah", menjadi obat penawar. Tak puas lagi, Anda mencoba mematikan dan menyalakan ponsel, meski belum tentu akan dapat sinyal lagi.

Itulah gambaran betapa masyarakat Habinsaran dan sekitarnya merasa terasing dari dunia luar menyusul hilangnya sinyal Telkomsel. Konon, kejadian sinyal ‘mullop-ullop’ itu kerap terjadi. Bahkan bisa sehari atau dua hari lamanya. Lalu, adakah cara pertolongan pertama bilamana peristiwa itu terulang kembali?

Hilangnya sinyal ponsel biasanya disebabkan lima faktor. Pertama, lokasi ruangan yang tertutup dan dibatasi beton tebal seperti dalam lift, basemen gedung, area parkir bawah gedung, atau bahkan di toilet yang disekat tembok tebal. Kedua, faktor cuaca seperti hujan lebat, kabut tebal, maupun angin kencang.

Ketiga, perangkat antena pada ponsel sudah tidak berfungsi normal atau rusak. Keempat, adanya perbaikan pada operator seluler atau pada BTS (Base Transceiver Station). Kalau ini yang terjadi biasanya pada petunjuk antena di ponsel akan bertuliskan SOS (Save Our Soul) berwarna merah. Artinya, Anda masih dapat melakukan komunikasi untuk hal yang bersifat darurat seperti kebakaran, bencana dan lain-lain dengan manghubungi nomor tertentu seperti 112 dan komunikasi menggunakan sinyal operator lain yang masih dalam jangkauan ponsel.

Kelima, Anda ingat ketika Presiden AS George W Bush berkunjung ke Istana Bogor beberapa waktu lalu? Dengan perangkat khusus semua sinyal ponsel yang ada pada radius tertentu hilang. Ini yang namanya teknologi Jump yang memblokir semua gelombang elektromagnetik yang masuk ke area tertentu, guna menghindari bom yang pemicunya adalah panggilan masuk melalui perangkat komunikasi seperti ponsel.

Ada Baiknya Mencoba Tips Berikut:

Nah, setelah kita tahu penyebab terganggunya sinyal ponsel, sekarang saatnya mencari solusi. Memang hasilnya tidak bisa 100 persen, tapi paling tidak kita bisa mengantisipasinya terlebih dahulu.

Paling sederhana adalah dengan menempelkan aluminium foil pada bagian dalam penutup baterai ponsel Anda. Caranya, gunting aluminium foil kira-kira seukuran baterai ponsel, kemudian tempelkan pada bagian dalam penutup baterai. Pastikan aluminum tersebut tidak bersentuhan langsung dengan perangkat elektroniknya agar tidak terjadi korsleting. Kalau perlu bisa dilapisi dengan kertas atau plastik. Aluminum foil ini juga sering digunakan untuk menambal panci dan lain-lain.

Selanjutnya, menggunakan stiker penguat sinyal ponsel. Stiker penguat sinyal ini relatif murah dan sangat mudah diperoleh di pasaran.

Kemudian, bila ponsel digunakan sebagai modem, Anda dapat melakukan eksperimen dengan membuat lingkaran menyerupai per, dengan menggunakan kawat berbahan tembaga dengan diameter lebih besar dari ukuran ponsel Anda. Kemudian letakkan ponsel pada bagian tengah lingkaran per tembaga tadi. Coba buktikan perbedaannya.

Ada lagi cara yang unik dan tidak ada salahnya untuk dicoba karena tidak perlu repot dengan alat-alat. Anda hanya perlu sebuah gelas kaca yang berukuran lebih besar dari ponsel Anda. Sama seperti dengan per kawat tembaga, letakkan ponsel dalam gelas kaca tersebut dan buktikan apakah ada peningkatan sinyal. BS

Tapak Samar Penginjilan di Habinsaran

Jalan Lintas Parsoburan-Paridian

Sudah cukup banyak referensi tulisan yang mengulas sejarah Kekristenan di Tanah Batak. Semua sudah tahu, puncak penginjilan dipelopori sejumlah misionaris Jerman menunjuk pada satu nama; Ingwer Ludwig Nommensen. Namun, khusus di Habinsaran dan sekitarnya, tapak penginjilan masih terasa samar-samar.

Bagi orang Batak, Nommensen tidak sekadar tokoh pendiri HKBP. Namanya dikenal sebagai pembaharu yang berhasil meletakkan fondasi sektor pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Pada masanya, Nommensen mendirikan 510 sekolah dengan murid 32.700 orang. Ratusan sekolah itu antara lain berdiri di Balige, Tarutung, Siantar, Sidikalang, Samosir, dan Ambarita. Setiap berkunjung desa-desa, Nommensen juga selalu membawa kotak obatnya, berusaha menyembuhkan berbagai penyakit masyarakat setempat.

Nommensen lahir di Nordstrand, Denmark yang kini masuk wilayah Jerman pada 6 Pebruari 1834. Dia wafat di Sigumpar, Toba Samosir, Sumatera Utara pada 23 Mei 1918. Ingwer Ludwig Nommensen, yang lebih dikenal dengan sapaan Nommensen adalah seorang tokoh pekabar Injil Jerman yang berhasil mendirikan HKBP pada 7 Oktober 1861 di Pearaja, Tarutung, Tapanuli Utara. Setelah melakukan berbagai persiapan, Nommensen akhirnya diangkat sebagai Ephorus pertama HKBP pada 1881 hingga meletakkan jabatannya pada 1918.

HKBP merupakan gereja terbesar di kalangan Batak, termasuk di antara gereja Protestan di seluruh Indonesia. Saat ini, HKBP memiliki jemaat sekira lima juta jiwa, yang tersebar di seluruh dunia. Di luar negeri, beberapa gereja HKBP juga sudah berkembang. Seperti di Singapura, Kuala Lumpur, New York, Colorado, Tokyo, Jerman, dan negara lainnya. Namun, meski memakai nama Batak, HKBP juga terbuka bagi suku bangsa lainnya.

Nommensen sudah menjadi cerita yang tertanam rapi dalam setiap masyarakat Batak, terutama subetnis Toba. Tanpa dia, orang Batak diyakini tidak akan ada mampu bersaing di tengah mayoritas suku Indonesia saat ini. Tidak heran apabila nama Nommensen akhirnya diabadikan menjadi nama dan lambang sekolah, dari taman kanak-kanak hingga universitas.

Saking mulianya, orang Batak bahkan menganugerahkan panggilan Rasul (dalam bahasa Batak disebut Apostel) bagi Nommensen. Padahal, sebutan Rasul dalam ajaran Kristen, hanya diberikan kepada 12 murid Yesus. Gelar Rasul yang disematkan kepada Nommensen sangat layak diberikan untuknya. Bukan untuk mengkultuskan Nommensen, tetapi menghormati karyanya yang nyata dalam kehidupan orang Batak. Nommensen memang telah menjadi sejarah bagi orang Batak.

Jason Simatupang, Pendeta Pertama HKBP Parsoburan


Mengetahui asal-usul berdirinya HKBP Resort Parsoburan, Distrik IV Toba memang cukup menantang. Sebab, hampir tidak ada catatan lengkap tentang jejak penginjilan yang terletak di timur Balige itu. Parsoburan, sebuah desa yang kini sedang bergeliat menuju perkotaan merupakan ibukota Kecamatan Habinsaran, berjarak 50 kilometer dari Balige, ibukota Kabupaten Tobasa, setelah dimekarkan dari Kabupaten Tapanuli Utara pada 1999.

HKBP Parsoburan berdiri tegak di sisi kiri jalan dari arah Balige. Letaknya tidak jauh dari kantor camat, di belakangnya terdapat pekuburan umum. Untuk mengetahui kapan tepatnya gereja ini berdiri cukup memperhatikan empat angka yang tertera di bagian horizontal salib, di pucuk menara gereja. Di sana tertulis 1936, yang tak lain adalah tahun diresmikannya HKBP Parsoburan. Kecuali tahun berdiri, tidak ada lagi petunjuk yang bisa ditelusuri tentang latarbelakang gereja yang kini berusia hampir seratus tahun itu.

Akan tetapi, dari berbagai literatur yang berhasil ditelusuri, masih ada fakta sejarah lain yang teramat sayang untuk dilewatkan. Yakni, siapakah pendeta pertama yang melayani HKBP Parsoburan? “Pendeta Jason Simatupang,” tulis Pirmian Tua Dalam Sihombing, dalam sebuah bukunya yang mengulas tentang perjalanan Pendeta Albert Sihombing-Lumbantoruan dan istrinya Orem boru Hutabarat.

Pendeta Albert merupakan ayah kandung Pirmian, zendeling pribumi ketiga yang ditempatkan Nommensen di kawasan Toba Habinsaran, berkedudukan di Sitorang dan Parsambilan. Pendeta Albert cukup lama melayani jemaat di Toba Habinsaran. Pendeta Albert dapat dikatakan bertugas mengawal Tuan Weissenbruch, zendeling muda yang berkedudukan sebagai pendeta resort di jemaat-induk Sitorang.

Pada mulanya jemaat Parsambilan dengan kedudukan induk resort di godung Losung Batu adalah tempat kedudukan seorang zendeling Jerman, sama seperti jemaat tetangganya, Sitorang. Pada dasawarsa 1890-an, untuk pertama kali Ephorus Nommensen sudah menempatkan seorang zendeling ke Parsambilan, yakni George Yung, yang lebih tersohor dikenal warganya dengan sapaan Tuan Jung. Zendeling inilah yang menerima tanah hibah yang cukup luas dari raja-raja kawasan Parsambilan, yakni Raja Punsaha Langit dan kedua adiknya Raja Puniahi dan Raja Patugaram bermarga Sitorus. Ketiganya adalah keturunan langsung dari Raja Sigodangtua, cucu Raja Matasopiak, melalui putranya Raja Manjunjung.

Lewat sebuah peraturan reorganisasi zending atas prakarsa petinggi RMG di Barmen, Jerman pada 1910, beberapa jemaat pelayanan zendeling dalam jarak yang dianggap terlalu berdekatan, cukup digabungkan menjadi satu. Sejalan dengan kebijakan itu pula, sistem distrik diperkenalkan dan diberlakukan. Sejak tahun 1911, Distrik Toba dibentuk, dan dipimpin oleh Praeses Meerwaldt. Tempat kedudukan zendeling di kawasan Toba Habinsaran yang digabungkan itu, ditetapkan di Sitorang yang amat dekat dengan godung Losungbatu.

Karena itu, untuk pertama kali pada tahun 1911, jemaat Losungbatu bukan lagi berstatus resort, dalam pengertian yang dipimpin seorang zendeling. Meskipun demikian, jemaat Losungbatu masih tetap membawahi atau mengkoordinasi banyak huria pagaran (jemaat cabang) lainnya, di luar yang masuk ke jemaat-induk Sitorang. Yang ditetapkan akan memimpin jemaat-induk Losungbatu sejak reorganisasi itu adalah seorang "hulp-zendeling" alias pembantu-zendeling atau pendeta-pribumi.

Pendeta pribumi pertama menduduki pos yang ditinggalkan oleh zendeling Yung itu adalah Josua Hutabarat, alumnus angkatan ke-III, tahun 1889-1891. Sehubungan dengan kepedihan hati keluarga pendeta itu karena pembakaran rumah dinasnya pada tahun 1916,  tugas pelayanannya kemudian digantikan Pendeta Benoni Simanjuntak, dari tahbisan angkatan ke VII, 1915-1917. Pendeta Benoni inilah yang kemudian digantikan pendeta Albert, yang lebih junior tiga angkatan, di godung Losungbatu mulai bulan Januari 1926.

Selanjutnya, karena tiadanya pembagian garis wilayah yang resmi antara zendeling Weissenbruch di Sitorang dan Pendeta Albert di Parsambilan, praktis kedua pendeta tersebut sama-sama melakukan pelayanan dalam jurisdiksi yang tidak terikat. Berarti, jemaat yang dilayani kedua pendeta ini secara bersamaan adalah semua jemaat-cabang di kawasan Sitorang, Parsambilan, Parsoburan. sampai ke Borbor. Kala itu, semua jemaat di Parsoburan sampai ke Borbor masih menyatu dalam satu jemaat-induk besar Losungbatu, dengan kordinator seorang hulp-zendeling saja.

Menurut notasi pelayanan Pendeta Albert, di antara jemaat-jemaat cabang yang pernah turut dilayani olehnya dalam resort maha-luas itu, adalah Sitorang, Silaen, Lumban Lintong, Batugaja, Natolutali, Sibide, Losungbatu, Pintubatu, Simanobak, Parsoburan, Lumban Pinasa, Lintong, Lumban Balik, Batu Manumpak, Dolok Nauli, Lobu Dapdap, Lumban Rau, Natumingka, Tor Ganjang, Lobu Hole, Pangururan, Pintubatu, Siringkiron, Hite Tano, Tangga, Borbor, dan beberapa lainnya. Barulah pada awal tahun 1930, Parsoburan mulai memiliki pendeta sendiri, yakni Pendeta Jason Simatupang. Ia adalah tahbisan pada angkatan ke-XII, akhir tahun 1929.

Sayangnya, belum ada catatan sejarah tentang kisah pelayanan Pendeta Jason Simatupang di kawasan Parsoburan. Bagaimana dan apa saja yang dialami Pendeta Jason Simatupang saat menyebarkan injil di Parsoburan? Juga belum ada yang tahu apakah Pendeta Jason Simatupang mempunyai keturunan yang masih bisa dilacak saat ini.

Ragam Sejarah HKBP di Parsoburan


Masuknya Pendeta Jason Simatupang ke HKBP Parsoburan sejatinya bukanlah awal penginjilan di tanah yang dihuni mayoritas marga Pardosi ini. Sebab, ada pula literatur yang menyebutkan HKBP Lumban Pinasa sudah berdiri sejak 1906. Bahkan, lonceng atau giring-giring yang digunakan HKBP Parsoburan saat ini sebelumnya digunakan HKBP Lumban Pinasa.

Di Lumban Rau, HKBP yang selanjutnya diberi nama Resort Letare juga sudah berumur seratus tahun pada 2008 lalu. Itu artinya, gereja ini didirikan pada 1908. Selisih dua tahun dari Lumban Pinasa. Ada pula cerita yang juga menyebutkan sudah hadirnya HKBP di Tornagodang, sejak 1900-an.

Terkait hal ini, Profesor Uli Kozok, seorang peneliti Jerman yang banyak menguraikan sejarah HKBP mengatakan, “untuk mengetahui itu harus ke Perpustakaan Wuppertal, Jerman,” tulis Uli Kozok saat dimintai GABE untuk meneliti seluk-beluk penginjilan di tanah Parsoburan.

Khusus di Parsoburan, barangkali salah satu cara yang bisa dijadikan sebagai titik terang ihwal penyebaran injil adalah dengan mencari tahu siapa saja sintua yang ditahbiskan kala itu. Konon, sintua pertama yang ditahbiskan di Parsoburan adalah Sintua Japet Pardosi. Ia lahir kira-kira tahun 1880. Tahun kelahiran Sintua Japet ini merupakan prediksi dengan asumsi ia menikah pada umur 19-20 tahun.

Prediksi serupa juga dilekatkan pada anak pertama Sintua Japet yang bernama Levi Pardosi yang juga menyandang predikat Sintua. Dengan demikian, Sintua Levi dilahirkan kira-kira tahun 1900-an. Penafsiran tahun kelahiran Sintua Japet dan Sintua Levi juga dikaitkan dengan tahun kelahiran anak pertama Sintua Levi atau cucu Sintua Japet, pada 1919, yang bernama Alusan Pardosi, yang pada hidupnya juga menyandang gelar Sintua. Kala itu, tahun kelahiran seseorang sudah cukup banyak yang tercatat, atau paling tidak sudah lebih mudah diraba. Dengan demikian, Sintua Japet sangat mungkin ditahbiskan sekitar tahun 1900-1910, saat ia berumur 20 sampai 30 tahun.

Analisis sejarah tersebut selaras dengan penempatan zendeling George Yung oleh Ephorus HKBP Nommensen pada 1890-an di Parsambilan. Jika dikaitkan dengan wilayah penyebaran zending setelah George Yung, pendeta yang menahbiskan sintua angkatan pertama di Parsoburan adalah Pendeta Josua Hutabarat. Sementara penahbisan sintua gelombang kedua dilakukan oleh Pendeta Benoni Simanjuntak.

Lalu, bagaimana dengan rekam jejak penyebaran injil di kawasan lain Habinsaran? Untuk mengetahuinya, dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam dan menyeluruh. Alangkah baiknya apabila HKBP mulai mengumpulkan secuil demi secuil butiran sejarah yang masih bertebaran itu. Selain HKBP, gereja lain di Habinsaran tentu saja sangat penting untuk membuat buku sejarah penginjilannya. “JAS MERAH, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah,” pesan Soekarno dalam pidato terakhirnya sebagai Presiden, 17 Agustus 1966. IHP/GABE

Minggu, 26 Mei 2013

Juliardos & Rosenni Mengikat Ikrar Suci


Bukan main kebahagiaan Juliardos JM Lubis ketika fotografer mengabadikan salah satu momen terindah dalam hidupnya. Pose berdiri dibalut jas abu-abu dan sepatu hitam kian istimewa karena kehadiran wanita cantik di sampingnya. Wanita cantik itu tampak anggun dalam balutan kebaya berwarna kuning muda dan songket merah. Plus setangkai kembang merah mengapit di tangannya.

Siapa gerangan yang telah berhasil merebut hati salah satu Dewan Redaksi Tabloid GABE itu? “Rosenni Pane, boru ni raja i sian huta Buluduri, Parsoburan,” Juliardos memperkenalkan istrinya, dalam sebuah acara resepsi di kediaman kakak iparnya di Jakarta, Sabtu (25/5/2013).

Ya, Juliardos-Rosenni menerima pemberkatan suami-istri di HKBP Parsoburan pada Sabtu (4/5/2013). Acara adatnya dilangsungkan pada hari yang sama, bertempat di kediaman orangtua Juliardos di RT 03 Parsoburan. Selanjutnya, keluarga baru ini akan menetap di Semarang, Jawa Tengah.

Juliardos JM Lubis yang akrab disapa Ardos atau Andos merupakan anak dari pasangan
AP Lubis (almarhum) dan U Br Pardosi (Op Alex). Sedangkan Rosenni Pane adalah buah hati dari pasangan St J Pane (almarhum) dan G Br Tanjung (Op Nurmala).

Sebagai pengikut Kristus, Juliardos-Rosenni diyakini akan mempertahankan koalisi abadi yang telah diikrarkan di hadapan Tuhan. “Tabo do hape na mangoli i,” seloroh Juliardos. ***

PDIP Kalah Lagi di Pilgub Bali

Setelah tumbang di Pilgub Jabar dan Pilgub Sumut, PDIP kembali menelan kekalahan di Pilgub Bali. Ini menjadi rekor buruk bagi partai moncong putih mengingat Bali merupakan salah satu basis terkuat partai tersebut. 

PASANGAN AAN Puspayoga-Dewa Sukrawan dipaksa kalah dari duet Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta. Demikian hasil rapat pleno rekapitulasi hasil perolehan suara pemilihan gubernur Pilkada Bali digelar di kantor KPUD Bali, Jl Tjokorda Agung Tresna, Denpasar, Minggu (26/5/2013).

Pastika-Sudikerta yang pada Pilgub sebelumnya dijagokan PDIP, mendapatkan suara sebanyak 1.063.734, sedangkan Puspayoga-Sukrawan mendapatkan sebanyak 1.062.738 suara. Sementara suara sah mencapai 2.109.234 suara, sedangkan suara tidak sah sebanyak 32.762 suara Persaingan kedua kubu memang sangat ketat. Selisihnya pun tipis, dengan Pastika unggul 996 suara dari Puspayoga.

BS

Jumat, 24 Mei 2013

Jason Simatupang, Pendeta Pertama HKBP Parsoburan

HKBP PARSOBURAN
Mengetahui asal-usul berdirinya HKBP Resort Parsoburan, Distrik IV Toba memang cukup menantang. Sebab, hampir tidak ada catatan lengkap tentang jejak penginjilan yang terletak di timur Balige itu. Parsoburan, sebuah desa yang kini sedang bergeliat menuju perkotaan merupakan ibukota Kecamatan Habinsaran, berjarak 50 kilometer dari Balige, ibukota Kabupaten Tobasa, setelah dimekarkan dari Kabupaten Tapanuli Utara pada 1999.

HKBP Parsoburan berdiri tegak di sisi kiri jalan dari arah Balige. Letaknya tidak jauh dari kantor camat, di belakangnya terdapat pekuburan umum. Untuk mengetahui kapan tepatnya gereja ini berdiri cukup memperhatikan empat angka yang tertera di bagian horizontal salib, di pucuk menara gereja. Di sana tertulis 1936, yang tak lain adalah tahun diresmikannya HKBP Parsoburan. Kecuali tahun berdiri, tidak ada lagi petunjuk yang bisa ditelusuri tentang latarbelakang gereja yang kini berusia hampir seratus tahun itu.

Akan tetapi, dari berbagai literatur yang berhasil ditelusuri, masih ada fakta sejarah lain yang teramat sayang untuk dilewatkan. Yakni, siapakah pendeta pertama yang melayani HKBP Parsoburan? “Pendeta Jason Simatupang,” tulis Pirmian Tua Dalam Sihombing, dalam sebuah bukunya yang mengulas tentang perjalanan Pendeta Albert Sihombing-Lumbantoruan dan istrinya Orem boru Hutabarat.

Pendeta Albert merupakan ayah kandung Pirmian, zendeling pribumi ketiga yang ditempatkan Ephorus HKBP Nommensen di kawasan Toba Habinsaran, berkedudukan di Sitorang dan Parsambilan. Pendeta Albert cukup lama melayani jemaat di Toba Habinsaran. Pendeta Albert dapat dikatakan bertugas mengawal Tuan Weissenbruch, zendeling muda yang berkedudukan sebagai pendeta resort di jemaat-induk Sitorang.

Pada mulanya jemaat Parsambilan dengan kedudukan induk resort di godung Losung Batu adalah tempat kedudukan seorang zendeling Jerman, sama seperti jemaat tetangganya, Sitorang. Pada dasawarsa 1890-an, untuk pertama kali Ephorus Nommensen sudah menempatkan seorang zendeling ke Parsambilan, yakni George Yung, yang lebih tersohor dikenal warganya dengan sapaan Tuan Jung. Zendeling inilah yang menerima tanah hibah yang cukup luas dari raja-raja kawasan Parsambilan, yakni Raja Punsaha Langit dan kedua adiknya Raja Puniahi dan Raja Patugaram bermarga Sitorus. Ketiganya adalah keturunan langsung dari Raja Sigodangtua, cucu Raja Matasopiak, melalui puteranya Raja Manjunjung.

Lewat sebuah peraturan reorganisasi zending atas prakarsa petinggi RMG di Barmen, Jerman pada 1910, beberapa jemaat pelayanan zendeling dalam jarak yang dianggap terlalu berdekatan, cukup digabungkan menjadi satu. Sejalan dengan kebijakan itu pula, sistem distrik diperkenalkan dan diberlakukan. Sejak tahun 1911, Distrik Toba dibentuk, dan dipimpin oleh Praeses Meerwaldt. Tempat kedudukan zendeling di kawasan Toba Habinsaran yang digabungkan itu, ditetapkan di Sitorang yang amat dekat dengan godung Losungbatu.

Karena itu, untuk pertama kali pada tahun 1911, jemaat Losungbatu bukan lagi berstatus resort, dalam pengertian yang dipimpin seorang zendeling. Meskipun demikian, jemaat Losungbatu masih tetap membawahi atau mengkoordinasi banyak huria pagaran (jemaat cabang) lainnya, di luar yang masuk ke jemaat-induk Sitorang. Yang ditetapkan akan memimpin jemaat-induk Losungbatu sejak reorganisasi itu adalah seorang "hulp-zendeling" alias pembantu-zendeling atau pendeta-pribumi.

Pendeta pribumi pertama menduduki pos yang ditinggalkan oleh zendeling Yung itu adalah Josua Hutabarat, alumnus angkatan ke-III, tahun 1889-1891. Sehubungan dengan kepedihan hati keluarga pendeta itu karena pembakaran rumah dinasnya pada tahun 1916,  tugas pelayanannya kemudian digantikan Pendeta Benoni Simanjuntak, dari tahbisan angkatan ke VII, 1915-1917. Pendeta Benoni inilah yang kemudian digantikan pendeta Albert, yang lebih junior tiga angkatan, di godung Losungbatu mulai bulan Januari 1926.

Selanjutnya, karena tiadanya pembagian garis wilayah yang resmi antara zendeling Weissenbruch di Sitorang dan Pendeta Albert di Parsambilan, praktis kedua pendeta tersebut sama-sama melakukan pelayanan dalam jurisdiksi yang tidak terikat. Berarti, jemaat yang dilayani kedua pendeta ini secara bersamaan adalah semua jemaat-cabang di kawasan Sitorang, Parsambilan, Parsoburan. sampai ke Borbor. Kala itu, semua jemaat di Parsoburan sampai ke Borbor masih menyatu dalam satu jemaat-induk besar Losungbatu, dengan kordinator seorang hulp-zendeling saja.

Menurut notasi-pelayanan Pendeta Albert, di antara jemaat-jemaat cabang yang pernah turut dilayani olehnya dalam resort maha-luas itu, adalah Sitorang, Silaen, Lumban Lintong, Batugaja, Natolutali, Sibide, Losungbatu, Pintubatu, Simanobak, Parsoburan, Lumban Pinasa, Lintong, Lumban Balik, Batu Manumpak, Dolok Nauli, Lobu Dapdap, Lumban Rau, Natumingka, Tor Ganjang, Lobu Hole, Pangururan, Pintubatu, Siringkiron, Hite Tano, Tangga, Borbor, dan beberapa lainnya. Barulah pada awal tahun 1930, Parsoburan mulai memiliki pendeta sendiri, yakni Pendeta Jason Simatupang. Ia adalah tahbisan pada angkatan ke-XII, akhir tahun 1929.

Sayangnya, belum ada catatan sejarah tentang kisah pelayanan Pendeta Jason Simatupang di kawasan Parsoburan. Bagaimana dan apa saja yang dialami Pendeta Jason Simatupang saat menyebarkan injil di Parsoburan?


Ragam Sejarah HKBP di Parsoburan

Masuknya Pendeta Jason Simatupang ke HKBP Parsoburan sejatinya bukanlah awal penginjilan di tanah yang dihuni mayoritas marga Pardosi ini. Sebab, ada pula literatur yang menyebutkan HKBP Lumban Pinasa sudah berdiri sejak 1906. Masuknya HKBP ke Lumban Pinasa kemungkinan besar terjadi karena saat itu Habinsaran dibagi dalam Empat Nagori. Yakni, Nagori Lumban Balik, Nagori Lumban Rau, Nagori Parsoburan, dan Nagori Lumbanrau. Nagori Lumban Rau kemudian dibagi menjadi beberapa desa dengan sistem pembuatan nama sesuai dengan arah mata angin dan lokasi desanya. Sehingga sampai sekarang ada desa Lumban Rau Tengah, Lumban Rau Selatan, Lumban Rau Timur, serta Lumban Pinasa.

Ada pula cerita yang juga menyebutkan sudah hadirnya HKBP di Tornagodang, sejak 1900-an. Terkait hal ini, Profesor Uli Kozok, seorang peneliti Jerman yang banyak menguraikan sejarah HKBP mengatakan, “untuk mengetahui itu harus ke Perpustakaan Wuppertal, Jerman,” tulis Uli Kozok saat dimintai GABE untuk meneliti seluk-beluk penginjilan di tanah Parsoburan.

Barangkali, satu-satunya cara yang mungkin bisa dirujuk sebagai ihwal penyeberan Injil di Parsoburan adalah dengan mencari tahu siapa saja sintua yang ditahbiskan kala itu. Konon, sintua pertama yang ditahbiskan di Parsoburan adalah Sintua Japet Pardosi. Ia lahir kira-kira tahun 1880. Tahun kelahiran Sintua Japet ini merupakan prediksi dengan asumsi ia menikah pada umur 19-20 tahun. Prediksi serupa juga dilekatkan pada anak pertama Sintua Japet yang bernama Levi Pardosi yang juga menyandang predikat Sintua. Dengan demikian, Sintua Levi dilahirkan kira-kira tahun 1900-an. Penafsiran tahun kelahiran Sintua Japet dan Sintua Levi juga sejalan dengan tahun kelahiran anak pertama Sintua Levi yang bernama Alusan Pardosi yang juga berstatus Sintua, pada 1919. Kala itu, tahun kelahiran seseorang sudah cukup banyak yang tercatat. Dengan demikian, Sintua Japet sangat mungkin ditahbiskan sekitar tahun 1900-1910, saat ia berumur 20 sampai 30 tahun.

Analisis sejarah tersebut juga sejalan dengan penempatan zendeling George Yung oleh Ephorus HKBP Nommensen pada 1890-an, di Parsambilan. Jika dikaitkan dengan wilayah penyebaran zending setelah George Yung, pendeta yang menahbiskan sintua angkatan pertama di Parsoburan adalah Pendeta Josua Hutabarat. Sementara penahbisan sintua gelombang kedua dilakukan oleh Pendeta Benoni Simanjuntak.

Namun, guna memastikan hal ini, dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam dan menyeluruh. Mungkin ada baiknya apabila HKBP mulai mengumpulkan secuil demi secuil butiran sejarah yang masih bertebaran itu.

Pinatomutomu ni Ishak Pardosi

Koleksi Empat Wanita, Hakim Playboy Segera Disidang

Ilustrasi
Dunia hukum kembali dikejutkan ulah oknum hakim nakal. Saat ini, Mahkamah Agung (MA) melalui Badan Pengawas telah memeriksa hakim playboy di salah satu pengadilan negeri di Kalimantan Barat. Ia diketahui berhubungan mesra dengan empat wanita. Namun hakim playboy ini tidak mengakui perselingkuhan itu.

"ADA yang diakui dan ada yang tidak," kata Ketua MA Hatta Ali di Gedung MA, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (24/5/2013).
 
Menurut Hatta, hakim tersebut hanya mengakui wanita yang ia kawini dalam masa penugasannya di Kalimantan Barat. "Yang diakui ya penugasannya di sana, kenal dengan ini, pernah kawin. Ya memang pernah kawin dia kan, kalau nggak pernah kawin, nggak selingkuh namanya.”

"Kapan digelar sidang MKH?" "Nanti kita tetapkan bersama tanggal berapa, yang penting personilnya kita sudah tentukan, Komisi Yudisial (KY) juga sudah tentukan, lalu kita berembuk kapan pelaksanaannya," jawab Hatta.

Diketahui, hakim playboy ini diketahui bercerai dengan istri pertamanya, lalu menjalin asmara dengan perempuan kedua dan menikah. Dalam pernikahan kedua tersebut juga diwarnai hubungan cinta dengan wanita-wanita idaman lainnya.

Sedikitnya ada empat wanita yang menjadi pasangan selingkuhnya, di antaranya adalah wanita yang mengurus perceraiannya dalam sebuah persidangan yang diketuai hakim tersebut. Bahkan, hakim hidung belang ini juga selingkuh dengan pegawai PN tempat ia bekerja. Sementara Dua wanita lainnya tak jelas.

BS

Misteri Rp 772 Miliar Dana Bina Lingkungan Inalum

Sepuluh kabupaten/kota yang berada di kawasan Danau Toba, terancam tidak mendapat bagian Bina Lingkungan (Environmental Fund) dari PT Inalum. Indikasinya, sejak tahun 1999, dana yang berjumlah sekira Rp772 miliar justru mangkir di tangan Otorita Asahan.

Informasi dihimpun hingga Kamis  (23/5/2013), Dana Bina Lingkungan yang ditampung sejak tahun 1999 itu, dan telah disepakati sebagai dana milik publik, justru tidak dinikmati warga 10 kabupaten/kota. Kesepuluh kabupaten/kota yang seharusnya menerima dana ini yakni, Kabupaten Samosir, Kabupaten Tobasa, Kabupaten Humbahas, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Dairi, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Asahan, Kota Tanjunbalai, Kabupaten Batubara, dan Kabupaten Karo.

Anggota DPRD Simalungun, Ir Rospita Sitorus menjelaskan, audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2013 membuktikan adanya dana tersebut dan mangkir hingga saat ini. “Dari data yang kami peroleh, dana yang semestinya disalurkan ke 10 kota/kabupaten di kawasan Danau Toba itu justru parkir di 31 nomor rekening yang dikelola oleh Otorita Asahan,” katanya.

Dinyatakan, dana yang peruntukannya bagi masyarakat telah diberikan PT Inalum. Namun dana itu justru berhenti di rekening Otorita Asahan. “Artinya, Otorita Asahan sebagai pihak yang mestinya menyalurkan dana itu, malah memarkirnya. Kita patut mencurigai, ada apa pihak Otorita Asahan tidak menyalurkan dana itu sejak 1999,” katanya.

Dana Bina Lingkungan, kata Rospita merupakan dana kompensasi lingkungan yang diberikan oleh PT Inalum terhadap 10 kota/kabupaten. Sumber daya alam sepuluh daerah itu dipakai oleh perusahaan selama beroperasi. Dan itu tertuang dalam Master Agreement antara Jepang dengan pemerintah RI ketika pertama kali PT Inalum beroperasi di Indonesia.

Tak cuma itu, tambah Rospita, pihaknya juga mendapat informasi dari BPK, masih ada kewajiban lainnya PT Inalum kepada 10 kabupaten/kota di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara yang belum dibayarkan, yakni annual fee tahun ke 27 dan tahun ke 29.

Sudah Kembalikan Rp500 M


Sementara sebagaimana diketahui, kontrak PT Inalum akan berakhir pada tahun ke 30 yakni pada Oktober 2013 mendatang. “Jika ini tidak segera dibayarkan, ketika perusahaan itu sudah take over, kepada siapa 10 kabupaten/ kota menuntut itu. Jadi ini harus segera dibayarkan ke 10 kabupaten/kota sebelum Oktober 2013,” katanya.

Dikonfirmasi kepada Ketua Otorita Asahan Effendi Sirait, menjelaskan, Rabu (22/5), selama ini pihaknya sudah menyalurkan dana bina lingkungan kepada 10 kabupaten/kota di kawasan Danau Toba. Penyaluran itu didasari adanya memorandum of understanding (MoU) antara Otorita Asahan dengan 10 kabupaten/kota tersebut. “Sejak 2003 kita sudah salurkan sebesar 25 miliar rupiah pertahun,” kata Efendi melalui selulernya.

Namun, sambung Efendi, mulai Agustus 2012, ada peraturan Menteri Keuangan yang mewajibkan dana tersebut harus dikembalikan terlebih dulu ke kas negara. Untuk kemudian dana bina lingkungan itu diusulkan dalam APBN untuk beberapa program di 10 kabupaten/kota kawasan Danau Toba. “Kita sudah kembalikan sekira limaratus miliar rupiah. Nah sekarang bagaimana upaya kita untuk bisa berbuat banyak bagi sumatera utara dalam mengusulkan dana itu dalam APBN,” tukas Efendi.

SUMBER

Kamis, 23 Mei 2013

Sinyal Hijau Ephorus HKBP untuk Calon Bupati Taput Pinondang Simanjuntak

Bakal Calon Bupati Taput Sintua Pinondang Simanjuntak SH MSi (paling kiri) foto bersama dengan Ephorus Emiritus HKBP Pdt SAE Nababan, Bupati Humbahas Maddin Sihombing dan Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata.
Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata menginginkan agar Bupati Taput terpilih pada Pemilukada 10 Oktober mendatang sosok yang religius, khususnya dari keluarga jemaat HKBP. Hal itu dilontarkan Ephorus saat menghadiri acara pesta perak HKBP Distrik XVI Humbang Habinsaran di Gereja HKBP Sabungan, Kecamatan Siborongborong, Taput, Senin (20/5), sekaligus peletakan batu pertama pembangunan rumah dinas Praeses HKBP Distrik XVI Humbang Habinsaran.

“Bupati Humbahas, Pak Maddin Sihombing adalah sosok yang religius. Beliau adalah bupati paling rajin beribadah ke gereja dan sudah membuktikan banyak prestasi di Kabupaten Humbahas. Seandainya bisa menjabat bupati tiga periode, dan kita minta beliau mencalonkan di Taput,” ujar Pdt WTP Simarmata dalam sambutannya.

WTP melanjutkan, namun karena peraturan yang tidak memungkinkan, dan beliau masih aktif sebagai bupati, maka kita harus memilih yang lain. "Kita juga punya salah satu bakal calon Bupati Taput dari keluarga vorhanger (pelayan) HKBP. Dia tidak jauh dari kita. Beliau ada duduk di antara kita saat ini,” ungkap Ephorus sambil melirik satu-satunya bakal calon Bupati Taput yang hadir saat itu, yakni Sintua Pinondang Simanjuntak, yang duduk berdampingan dengan Ephorus Emiritus HKBP Pdt SAE Nababan.

Meski tidak langsung menyebut nama, Ephorus HKBP langsung membeberkan jasa Pinondang Simanjuntak terhadap HKBP. Yakni memprakarsai pembangunan Gereja GKPI Sait Nihuta dan renovasi Gereja Dame yang kini sebagai tempat beribadah jemaat HKBP di Sait Nihuta, Kecamatan Tarutung.

“Beliau sudah berjasa kepada HKBP. Yakni memprakarsai pembangunan Gereja GKPI Sait Nihuta. Di mana sebelumnya jemaat GKPI masih satu tempat ibadah dengan jemaat HKBP di Gereja Dame, Sait Nihuta,” paparnya.

Mendengar ungkapan Ephorus, sintua Pinondang Simanjuntak yang juga didampingi istrinya Emma boru Lumbantobing tampak tersenyum. Kepada METRO, Pinondang Simanjuntak menyebut, dirinya kaget mendengar kata sambutan dari Ephorus HKBP.

“Saya tidak menduga kalau Ephorus HKBP akan menyatakan hal itu. Karena tujuan kita datang ke acara ini memang murni sebagai undangan. Jadi, saya juga kaget sebenarnya,” ujar sintua Pinondang Simanjuntak.

Terkait pembangunan Gereja GKPI Sait Nihuta, sintua Pinondang Simanjuntak menjelaskan bahwa setelah 40 tahun jemaat HKBP dan GKPI satu tempat ibadah di Gereja Dame Sait Nihuta. Dan tepatnya pada tanggal 24 Desember 2006, Gereja GKPI Sait Nihuta yang baru diresmikan.

“Nah, saya saat itu sebagai ketua umum panitia pelaksana pembangunan Gereja GKPI sekaligus ketua umum panitia renovasi Gereja Dame yang saat ini dipakai sebagai tempat beribadah oleh jemaat HKBP,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa almarhum orangtuanya, sintua G Simanjuntak sekitar tahun 1960-an hingga 1970-an, bertugas di Gereja Dame sebagai vorhanger. “Jadi memang almarhum ayah saya itu dulu pelayan di HKBP,” tandasnya.

Hadir dalam acara tersebut Bupati Humbang Hasundutan Maddin Sihombing, ketua umum pantia pesta perak 25 tahun HKBP Distrik XVI Humbang Habinsaran Tongam Manalu, anggota DPRD Taput Tigor Lumbantoruan, serta perwakilan jemaat HKBP Distrik DKI Jakarta Anita Lubis.

IP/METRO SIANTAR

DPRD Simalungun: Kabupaten Simalungun Hataran Hampir Final

Ojak Naibaho
Wakil Ketua DPRD Simalungun Ojak Naibaho mengatakan, usulan pemekaran Kabupaten Simlaungun melalui tiga pintu, yakni DPD RI, DPR RI dan Mendagri. Alasannya, yang mengajukan diparipurna adalah DPR RI dan bukan Mendagri. Dengan demikian, moratorium pemekaran daerah yang ditunda hingga 2014, tidak akan berpengaruh terhadap usulan pemekaran Simalungun.

Politisi PDI-Perjuangan ini menerangkan, kalau usulan pemekaran hanya melalui pintu Kemendagri, akan mengalami kendala atas moratorium. Itu sebabnya pihaknya melakukan upaya melewati jalur DPD dan DPR RI.

“Nanti saat pembahasan di pusat, yang mengusulkan adalah DPR RI. Biasanya kan yang mengusulkan untuk dibahas pihak eksekutif. Nah, itu yang kita bicarakan kemarin saat bertemu dengan DPD dan DPR, mereka sangat mendukung,” ujarnya.

Dia menambahkan, pimpinan DPRD Simalungun akan kembali menemui Gubernur Sumatara Utara guna mempertanyakan berkas yang sudah diserahkan. Kalau memang sudah selesai diteliti dan diperiksa dan ditandatangani untuk direkomendasi, maka pimpinan DPRD Simalungun akan langsung berangkat ke pusat menyerahkan berkas tersebut.

“Ini adalah upaya kita, supaya pemekaran segera direalisasikan tahun ini,” katanya. Dia menjelaskan, persyaratan pemekaran kabupaten yang tertuang dalam PP 78 tahun 2007 sudah dipenuhi.

Pada pasal 5 ayat 2 syarat administrasi di antaranya, Keputusan DPRD Kabupaten Induk tentang persetujuan pembentukan calon kabupaten. Kemudian, keputusan bupati induk tentang persetujuan pembentukan calon kabupaten. Lalu, keputusan DPRD Provinsi tentang persetujuan pembentukan calon kabupaten. Selanjutnya keputusan gubernur tentang persetujuan pembentukan calon kabupaten. Terakhir adalah rekomendasi menteri.

“Jadi posisinya saat ini tinggal persetujuan Gubernur. Kita sangat berharap Gubsu dapat menyetujuinya dengan cepat. Agar aspirasi masyarakat dapat terpenuhi,” terangnya.

Ojak Naibaho menambahkan, penentuan Ibukota Simalungun Hataran dipilih Kota Perdagangan di Kecamatan Bandar, berdasarkan ketentuan dan melalui kajian daerah terhadap aspek tata ruang, ketersediaan fasilitas, aksesibilitas, kondisi dan letak geografis, kependudukan, sosial ekonomi, sosial politik dan sosial budaya.

“Pemekaran Simalungun dasarnya adalah adanya usulan dari seluruh lapisan masyarakat kepada pemerintah daerah. Ini sudah sangat lama sekali diusulkan. Itu makanya, dalam kelengkapan berkas, disertakan tanda tangan maujana dan pangulu sebagai perwakilan masyarakat,” kata Ojak Naibaho.

Dia menyebutkan, masyarakat sudah membulatkan tekad untuk pemekaran. Itu sebabnya pemerintah daerah termasuk DPRD tidak mengalami banyak kendala dalam pengusulan ke Gubsu. Diharapkan, masyarakat jangan mau terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu yang dapat membuyarkan rencana pemekaran Kabupaten Simalungun.

SUMBER