Sabtu, 11 Mei 2013

Ardin Sitorus, Pengacara Kelas Wahid dari Lumban Ruhap


Ardin Sitorus adalah salah satu dari sekian banyak pengacara Batak di Jakarta. Akan tetapi, Ardin menjadi spesial lantaran ia berasal dari Lumban Ruhap, sebuah desa yang cukup terpencil di Kecamatan Habinsaran, Tobasa, Sumut. Sehingga kurang pas bila membandingkan Ardin Sitorus dengan pengacara Batak yang berasal dari lintasan emas Tapanuli seperti Balige, Laguboti, maupun Tarutung. Ada cerita unik dan khas yang bisa digali dari pria berkulit gelap ini.

Belum ada catatan ilmiah kenapa orang Batak sangat melekat dengan profesi pengacara. Hanya saja, semua sudah paham, pengacara yang sangat menguasai seluk-beluk hukum sebagian besar berdarah Batak. Yang lurus bisa bengkok, sedangkan yang bengkok juga bisa diluruskan. Begitu kira-kira tanggapan umum bila berbicara tentang pengacara. Maka, pengacara Batak menjadi pilihan utama bagi mereka yang tersangkut masalah hukum. Sebut saja Hotman Paris Hutapea, pengacara tersohor di Jakarta. Putera Laguboti ini dipercaya menangani banyak perkara hukum bertaraf nasional maupun internasional.

Akan tetapi, popularitas pengacara Batak yang sudah melangit itu sebenarnya tidak melulu hanya milik Hotman Paris Hutapea. Sudah tidak terhitung pengacara Batak yang berhasil melampaui prediksi banyak orang. Salah satu di antaranya adalah Ardin Sitorus, pengacara ternama di Ibu Kota. Ardin, pemilik suara lantang dan tegas, banyak didaulat perusahaan besar sebagai kuasa hukum. Di antaranya, BCA, Garuda Indonesia, Indofood, dan sederet perusahaan raksasa lain.

Menurut Ardin, banyaknya perusahaan yang menggunakan jasa kantor hukumnya tidak terlepas dari profesionalisme dan komitmen kuat untuk memberikan layanan dan mengaplikasikan keahlian hukum, diplomasi, dan rencana strategi guna mencapai kebutuhan dan kepentingan klien.

Dulu, Ardin berkisah, orang dan perusahaan bisnis pada umumnya meminta jasa pengacara hanya dalam situasi darurat. Seperti menangani kasus yang sudah masuk ke pengadilan, jika orang atau perusahaan gagal menagih piutang yang sudah jatuh tempo, atau suatu transaksi bisnis tidak dibayar dan tidak tercapai penyelesaian. Kejadian semacam itu tentu saja masih tetap berlangsung hingga kini meski jumlahnya semakin berkurang.

“Sekarang, orang dan perusahaan telah menggunakan jasa pengacara untuk membantu mereka merencanakan strategi guna menghindarkan situasi darurat semacam itu dan menaati serta menyesuaikan diri dengan perkembangan cepat peraturan perundangan dan ketentuan hukum yang berlaku,” tegas Ardin kepada GABE di kantornya.

Peluang seperti itulah yang diterjemahkan Ardin dengan menggaet sejumlah pengacara profesional di kantornya demi melayani kebutuhan klien. Hasilnya, pengacara di kantor hukum MMS Legal & Manpower Consultants milik Ardin Sitorus, memiliki kekuatan khusus dalam berbagai bidang hukum. Yakni, memberikan jasa hukum perburuhan, ketenagakerjaan, dan imigrasi dan mewakili serta mendampingi pengusaha atau pekerja dalam penyelesaian perselisihan hak, kepentingan dan hubungan industrial baik dalam proses Bipartite, Mediasi, Konsiliasi maupun dalam sidang Pengadilan Hubungan Industrial.

Di luar jasa ketenagakerjaan, kantor hukum milik Ardin Sitorus juga menyediakan bantuan hukum dalam bidang korporasi dan komersial, perbankan dan lembaga keuangan, investasi dalam negeri dan akuisisi, pertanahan dan properti, hak milik intelektual, litigasi, arbitrasi, serta penyelesaian perselisihan. “Kami memikul tanggung-jawab etika standar yang tinggi dalam perilaku pribadi dan sikap professional. Kami menempatkan etika dan integriats tinggi sebagai prioritas dalam melayani Klien dan pihak lain. Dalam kondisi ketidakpastian politik global dan perubahan lingkungan yang begitu cepat, kami berpegang teguh dan selalu bersandar pada etika professional dalam menghadapi segala tantangan dan tuntutan zaman.”


Pensiun dari Depnakertrans

ARDIN SITORUS berkantor di Wisma Gondangdia Lama, terletak di Jalan RP. Soeroso No 25 Menteng Jakarta Pusat. Sebuah kawasan yang bertetangga dengan Cendana, kediaman mantan Presiden Soeharto. Menempati kantor di kawasan elit di Jakarta merupakan nilai lebih bagi seorang pengacara. Akan tetapi, kenyamanan posisi yang diraih Ardin saat ini, semuanya berawal dari Medan, Sumatera Utara.

Jebolan Fakultas Hukum USU ini tak sedikitpun menyangka bakal terjun sebagai pengacara. Ini bila dikaitkan dengan latarbelakangnya yang pernah tercatat sebagai PNS di Depnakertrans (Kemnakertrans). Bagi dia, semua itu proses yang memakan butuh waktu lama. Karirnya dimulai saat bergabung sebagai pengacara di kantor hukum RO Tambunan, SH. Tak betah sebagai pengacara, ia kemudian banting setir menjadi pegawai di Depnakertrans, Medan, sejak 1998. “Saya 14 tahun di sana menangani masalah ketenagakerjaan,” urai suami dari Marentina Saragih ini.

Bintang Ardin semakin bersinar ketika bank raksasa BCA memintanya untuk bergabung di kantor pusat Jakarta. Ia kemudian meninggalkan Medan pada 2001 dan bekerja di kantor pusat BCA Jakarta sebagai Senior Manajer Hubungan Industrial. Tugasnya meliputi penanganan kasus karyawan dan perusahaan BCA. Namun, Ardin kembali hijrah dari BCA setelah mengabdi selama sembilan tahun. Hebatnya, kendati telah pensiun dari BCA, Ardin masih tetap dipercaya sebagai konsultan di perusahaan milik Hartono bersaudara itu. “Pada 2010, saya resmi membuka kantor hukum sendiri. Sekarang sudah ada 11 lawyer yang bekerja dengan saya,” katanya.

Pengalamannya bergelut di bidang ketenagakerjaan ditambah jaringannya semasa mengabdi di BCA, jelas menjadi modal penting bagi Ardin. Dalam waktu singkat, kantor hukum miliknya sudah menangani kebutuhan hukum di banyak perusahaan.


Menggeluti Bisnis Ekspedisi

ARDIN SITORUS yang selalu tampil necis ini juga tidak hanya piawai dalam dunia hukum saja. Ia adalah pemilik PT Soli Deo Gratia, perusahaan yang bergerak untuk jasa pengiriman barang alias ekspedisi. “Latar belakang berdirinya perusahaan ini berawal dari begitu banyaknya permintaan untuk jasa pengiriman barang dan dokumen dari klien pada saat itu,” tukas ayah dari tiga orang anak ini.

Melihat situasi tersebut, jiwa bisnis Ardin Sitorus timbul untuk terjun ke usaha yang memiliki peluang emas itu. Dalam waktu singkat saja, jaringan yang dibangun oleh PT Soli Deo Gratia tumbuh semakin besar dan secara bertahap dapat menjangkau seluruh pelanggannya.

Ardin menambahkan, perusahaan ekspedisi miliknya mempunyai kantor cabang di gedung JPT Bandara Soekarno Hatta, serta memiliki kantor perwakilan di 33 Provinsi di Indonesia serta di lima benua. Dengan demikian, Soli Deo Gratia mampu menghubungkan lebih dari 200 kota besar dan kecil di Indonesia. “Kepuasan pelanggan adalah prioritas utama kami. Kepercayaan pelanggan akan selalu dijaga dengan sistem pengiriman paket atau dokumen yang aman, nyaman, cepat dan tepat waktu.”

TIM GABE



0 komentar:

Poskan Komentar